DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Harapan Hidup Abu Bakar lewat Alat Bantu Pernapasan

Let's Save Palestine
1

ACTNews, GAZA – Nor El DIi Ihab Abu Bakr atau akrab disapa Abu Bakar, remaja 17 tahun yang kini hanya dapat berbaring lemah di rumah orang tuanya di Gaza, Palestina. Terdapat lubang di leher Abu Bakar, yang tersambung dengan pipa berdiameter sekitar 3 sentimeter. Alat ini menjadi tumpuan Abu Bakar untuk bernapas hingga kini. Tahun lalu, tepatnya awal Juni 2018, timah panas bersarang di leher remaja pejuang kemerdekaan Palestina yang memaksa Abu Bakar seperti sekarang ini.

Di hari Jumat awal bulan itu seakan menjadi hari kelam bagi Abu Bakar. Tentara Israel menembakkan pelurunya ke arah kerumuman warga Palestina yang sedang melakukan aksi Great March of Return di Monumen Peace March. Abu Bakar tertembak di bagian leher yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua lengan, kaki serta organ pelvis.

Ehab Mohamed (43), ayah Abu Bakar mengatakan peluru yang mengenai anaknya merusak saraf tulang belakang. Akibatnya kelumpuhan menyerang hampir sekujur tubuh remaja itu. “Abu Bakar berjiwa pemberani dan pelindung bagi keluarga kami, bahkan saat ia tertembak oleh petugas keamanan Israel,” ungkap Ehab Mohamed pada pekan awal April lalu kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Hasil pemeriksaan, Abu Bakar mengalami quadriplegia atau kelumpuhan tangan, kaki serta organ pelvis. Ia pernah menjalani perawatan medis di Mesir pada Agustus hingga Oktober 2018 lalu. Akan tetapi, pengobatan tak dapat dilakukan secara menyeluruh dan memaksa Abu Bakar kembali ke Gaza. Di tanah airnya sendiri, Abu Bakar menjalani pengobatan lanjutan dengan bantuan alat pernapasan.

Di tengah krisis yang semakin mendera Gaza, leher Abu Bakar dilubangi melalui operasi trakeostomi. Lubang ini yang kini digunakan remaja asal Gaza itu untuk bernapas. Namun, pasokan listrik yang tak menentu untuk menghidupkan alat bantu pernapasan menjadi kendala tersendiri.

April ini, ACT melalui program Mobile Social Rescue mendistribusikan santunan pengobatan kepada Abu Bakar. Santunan berupa alat bantu pernapasan serta panel surya untuk kebutuhan listrik sehari-hari. “Panel surya ini dipasangkan oleh relawan ACT yang berada di sana (Gaza), nantinya pasokan listrik untuk alat bantu pernapasan bagi Abu Bakar serta kebutuhan lain didapatkan dari panel surya ini, alat pernapasan kini jadi tumpuan hidupnya,” jelas Koordinator MSR-ACT Nurjannatunaim, Senin (15/4).

Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan listrik alat pernapasan, Abu Bakar memerlukan dana hingga puluhan juta rupiah untuk membeli bahan bakar. Selain itu, keperluan lain hingga 21 juta rupiah dibutuhkan untuk membersihkan jalur pernapasan secara rutin. Nilai kebutuhan yang besar ini menjadi beban tersendiri, terlebih Ehab Mohamed, ayah Abu Bakar, penghasilannya tak cukup untuk menutupi kebutuhan pengobatan anaknya yang berjuang untuk Palestina.

Krisis listrik di Palestina juga menambah beban Abu Bakar serta warga Palestina lainnya. Listrik yang hanya mengalir 11 hingga 12 jam saja tak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, apalagi rumah sakit. Banyak rumah sakit tutup akibat tak ada pasokan listik. []

TAGS