DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Harapan Terakhir Rusli untuk Temukan Anaknya di Balaroa

Emergency Response
Harapan Terakhir Rusli untuk Temukan Anaknya di Balaroa

ACTNews, PALU - Sudah berkali-kali Rusli Abidin menjejak di tanah yang sama, tanah yang telah hancur porak-poranda, tanah yang dulunya pernah menjadi rumah tempat ia dan keluarganya merebahkan penat dan lelah. Tapi gempa 7,4 SR Jumat (28/9) lalu, diikuti oleh fenomena likuefaksi yang melipat dan meruntuhkan tanah, membuat rumah Rusli dan semua kenangan di dalamnya remuk tak lagi berbentuk.  

Apalagi, tak hanya tentang lenyapnya rumah, Rusli juga kehilangan seorang putrinya, Dea Novia Abidin (12). Memori terakhir yang diingat Rusli, putrinya sedang berada di dalam kamar, sendirian menunggu azan Magrib.

“Di sini, di titik ini anak saya terakhir berada sebelum gempa. Saya cuma ingin meyakinkan, ada tidak anak saya terkubur di dalam. Waktu kejadian Dea sedang sendiri di dalam kamarnya,” cerita Rusli sembari menunjuk di salah satu titik runtuhan yang sudah porak-poranda.

Kami, Tim ACTNews bertemu dengan Rusli di antara tumpukan puing-puing runtuhan rumahnya. Hari itu, sudah lebih dari dua pekan pascagempa, tapi Rusli belum menyerah. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa titik yang ia pijak itu adalah sisa dari rumahnya yang tinggal puing, remuk dihantam gempa dan likuefaksi.

“Hanya satu anak saya ini saja yang belum ketemu. Istri saya dengan anak pertama saya selamat. Saat itu mereka sedang ada di luar rumah. Sementara posisi saya di hari gempa itu ada di Balikpapan. Tapi Dea sendirian di dalam kamarnya,” ujar Rusli sembari terisak. Matanya merah menyala, tanda bahwa sudah berhari-hari ia menangis, tak bisa tidur mencari anaknya.

Sembari menjaga harapan tentang nasib Dea, setiap hari setelah gempa Rusli selalu berkeliling dari satu tenda pengungsian ke pengungsian lain. Ia masih berharap Dea sempat melarikan diri dari gemuruh tanah yang melumat Perumnas Balaroa. Namun demikian, hasil pencariannya nihil.

“Saya sudah keliling semua tenda pengungsian di Palu, dari Palu Barat sampai Watulemo di Palu Timur. Tapi tidak ada Dea. Satu-satunya harapan, Dea masih ada di dalam puing kamarnya sendiri,” tutur Rusli.

Mencoba ikhlas kehilangan Dea

Tak pernah mudah untuk mengenali kembali tiap-tiap sudut jalan bahkan posisi rumah sendiri di Perumnas Balaroa. Likuefaksi di titik ini benar-benar membuat remuk seluruh benda di atas tanah. Rumah seperti dilumat, aspal amblas juga ada yang menekuk ke atas. Air hitam keluar dari dalam tanah dan menggenang. Kondisi ini pula yang membuat Rusli butuh waktu berhari-hari untuk menemukan lokasi pasti di mana posisi rumahnya.

“Ini di sini. Kamar Dea di titik ini, insya Allah saya yakin. Baru hari ini akhirnya saya ketemu dengan warna keramik teras rumah saya. Ini juga ada patahan besi pagar rumah saya di sini. Posisi kamar Dea ada di belakang sana. Saya yakin Dea masih di sana,” kata Rusli menunjuk posisi puing yang sudah terendam air berwarna hitam pekat.

Tapi sore itu, menjelang petang di Perumnas Balaroa, satu buldoser besar sudah mengeruk titik lokasi yang ditunjuk Rusli. Alat besar itu enggalinya sampai kedalaman lebih dari 3 meter, sampai air hitam pekat kembali menyentak keluar. Namun, Dea tetap tak ditemukan.

Harapan Rusli kembali pupus. Tubuhnya yang besar dan legam, tanda ia pekerja lapangan, tetap tak mampu menutup mata merah dan air matanya yang kembali menitik. Rasa kehilangan seorang putri kesayangan benar-benar tergurat jelas di wajahnya.

Petang datang, Rusli menyalami setiap petugas evakuasi jenazah yang berada di atas buldoser. Pun kepada Tim Evakuasi Jenazah Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang ikut turun tangan mencari. Rusli berpamitan, ia berterima kasih telah tim telah membantu mencari Dea. “Terima kasih, Bang, udah bantu cari. Saya puas akhirnya bisa lihat sendiri kalau di bawah runtuhan rumah itu tidak ada anak saya,” ucap Rusli, mencoba ikhlas.

Langkah Rusli menjauh tampak goyah, meninggalkan remukan Balaroa dengan keikhlasan yang mulai ia rajut. []

TAGS