DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Inikah Saatnya "Hari Baik" Industri Filantropi?

Kolom
Inikah Saatnya

Syahru Aryansyah

Praktisi Korporasi Wakaf

Kian kerap warning atas ancaman terhadap usaha retail. Modernitas sering jadi kambing hitamnya. Istilah seperti e-commerce, disrupsi, sampai industry 4.0 pun berseliweran. Realitas ini mengomando pengamat bisnis untuk urun rembug. Perubahan gaya hidup pun disoal. Ikutannya, pola berpikir dan preferensi pun jadi bahasan empuk.

Bukan soal senang atau tidak atas fenomena ini. Justru kita terbetot pada realitas baru ini. Apa yang muncul setelahnya? Apa yang kita antisipasi atas fenomena itu? Baik buat Indonesia, untuk melirik ikhtiar tak kenal lelah pejuang kemanusiaan. Memperhatikan sebuah "klaster berpenghuni orang-orang aneh" yang tiba-tiba dilirik. Dilirik karena fenomenal, aktivitas mereka seolah melawan kebiasaan. Ekstrem kalau saya katakan, yang tak melirik dulu, dihinggapi mental block. Yang yakin bisnis syariah aneh, mereka. Yang melawan kebebasan bersyari'ah, mereka. Saat mereka menghadapi fakta bahwa banyak yang selamat karena syariah, muncullah split personality. Tak mau percaya bersyariah menyelamatkan.

Soal kekeras-hatian, sudahlah, saya tak hendak meributkan. Kita membincang segolongan "orang-orang yakin" saja. Satu sisi, mereka sudah provent, di sisi lain, dengan itu mereka berhak didengar setelah diabaikan lama. Salah satu contoh itu, korporasi wakaf. Yang men-declare sebagai korporasi wakaf, mengaku mereka selamat karena berstrategi, bukan asal menang. Mereka memilih industri ritel FMCG ( Fast Moving Consumer Goods). Bagaimana itu? Ritel dengan tingkat konsumsi yang tidak akan pernah turun - karena merupakan kebutuhan pokok - mereka pilih. Tentu persaingan selalu sangat ketat.  Market share konsumsinya yang terbesar sehingga selalu menarik pemain existing maupun new comer.

Korporasi Wakaf ini, tidak mengedepankan profit. Keunggulan itu pada sisi produk. Produk ritel yang ditekuninya, fokus dengan minimarket dan warung  bukan hypermarket dan supermarket. Ini karena terkait dengan beberapa hal.

Pertama, kemudahan akses dan kecepatan waktu bagi konsumen untuk belanja karena lokasi yang semakin dekat dengan konsumen. Hal ini yg membuat ritel fast moving consumer goods hypermarket dan minimarket mengalami penurunan bisnis terus menerus karena belanja bulanan pindah ke belanja mingguan dan harian ke minimarket.

Korporasi Wakaf ini bertekad tahun ini fokus dengan tiga produk: regular stores. Minimarket dengan brand Sodaqo dan multibrand lainnya. Ukuran minimarket yang dipilih tidak hanya seukuran minimarket umumnya, tapi juga mengambil ukuran yang lebih kecil seperti tipe A; Warkaf community, yang fokusnya pada captive market dengan basis konsumen lebih pasti (seperti pesantren, masjid dan sekolah); Warkaf mikro, yakni converting traditional outlet individual menjadi modern, juga dengan skema full managed.

Kedua, menjalankan business model secara partnership, dengan ketiga produk itu, korporasi wakaf tetap fokus dengan skema partnership karena: korporasi wakaf tidak berinvestasi di lokasi,  berbeda dengan market leader dan ide bisnis yang luar biasa ini tak lain karena langsung di declare sebagai produk Warkaf. Kekuatan ini menjadi faktor utamanya (ada investasi wakaf, terjadi pengembangan skema partnership dengan korporasi wakaf dan ada pemberdayaan mauquf alaih atau penerima manfaat wakaf). Dan dengan warkaf ini, tidak sekadar kemitraan yang terjadi tapi ada emotional engagement terutama dari sisi ideologis. Competitive advantage dari produk Wakaf ini yang sangat kecil kemungkinan dimasuki oleh investor kapitalis.

Korporasi wakaf memadukan market mitra outlets tidak hanya dari skema investasi mitra tapi juga melalui warung wakaf dan terintegrasi dengan captive Global Wakaf ( stake holder foundation wakaf : donors, beneficiaries, waqif).

Mulai dengan niat besar

Keyakinan kolektif, membesarkan kebersamaan. Cara ini membantu mengokohkan kerja berjamaah. Tidak ada investasi di lokasi, karena sepenuhnya lokasi milik mitra. Problem utama yang dihadapi retailer saat ini adalah karena sewa lokasi yang biayanya semakin naik. Sementara ikhtiar korporasi wakaf ini dengan partnership. Lokasi adalah milik mitra baik sewa maupun beli dan prioritas lokasi sepenuhnya milik mitra, baik individual maupun captive seperti masjid, pesantren, dan sekolah.

Dari sisi Mitra, tidak ada biaya franchise, manajemen, dan royalty. Cara ini membuat investasi masih lebih murah dibandingkan cara konvensional. Apalagi dengan produk Warkaf yang investasinya jauh lebih murah tapi rasio sales and profit terhadap investasinya jauh lebih baik.

Korporasi Wakaf dengan jamaah solidnya, akan memprioritaskan pada technology development khususnya On Line, walaupun peran On Line di FMCG masih sangat kecil dibandingkan produk lainnya seperti fesyen, elektronik dan lainnya. Nilai belanja FMCG di minimarket dan warung belum masuk skala ekonominya dibanding delivery cost nya tapi cepat atau lambat semakin tidak bisa dihindari.

Korporasi Wakaf, belum apa-apa dibanding yang lain. Namun, menghadapi berbagai macam perubahan, industri ini berjalan dengan sejumlah strategi yang memiliki competitive advantage.

Pertama, produk/tipe outlets yang tidak hanya minimarket tapi masuk ke niche market yang semakin dalam untuk mencegah konsumer belanja di luar terutama melalui Warkaf (Warung Wakaf) community dan Warkaf mikro.

Kedua, investment, selain lower investment terjadi blending investment mitra di sisi outlets, tidak hanya dari mitra yg investasi murni tapi ada peran wakaf yang luar biasa.

Ketiga, bisnis model partnership dan social entrepreneur menjadi integrasi antara bisnis dan filantropi karena ada faktor benefit yang akan terjadi semakin luas. Ini mempercepat efek emotional engagement sebagai pembuka peluang loyal consumer yang kian besar.

Keempat, technology development. Tidak hanya di back end tapi bagaimana di front end terutama di sisi konsumer agar semakin mudah bagi konsumer untuk terlayani.

Argumentasi berbasis realitas lapangan ini, meski masih amat prematur, memberi optimisme mengingat besarnya semangat pulih umat dari keterpurukan panjangnya. Paduan "kebijakan berpihak" dan serbuan bisnis asing zonder proteksi, kian menyadarkan muslimin negeri ini pada sistem mana ia harus berpatokan. []