DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Jalan Panjang Sebulir Beras Terbaik, dari Bojonegoro hingga Somalia

Jalan Panjang Sebulir Beras Terbaik, dari Bojonegoro hingga Somalia

ACTNews, BOJONEGORO - Seperti apa beras yang Anda pangan hari ini? Jika teliti menyimak, kalau nasi hangat yang ada di piring Anda adalah nasi yang pulen, putih bersih, bahkan tanpa ada butiran nasi yang pecah, berarti beras yang Anda pangan itu termasuk dalam beras kategori super, beras level terbaik yang dihasilkan dari tanah subur Indonesia.

Proses mencapai beras dengan jenis seperti itu tidak hanya bergantung pada bagaimana bibitnya. Ada jalan panjang yang harus dilakukan untuk menghasilkan beras level terbaik, dari mulai gabah, digiling dan dibersihkan, dipilah dan dipilih, hingga beras kualitas super itu siap ditanak di dapur-dapur tiap rumah di Indonesia.

Karena anjuran Rasulullah SAW, jika memberi harus sesuatu yang terbaik yang kita miliki, maka proses mencari beras terbaik ini pula yang sedang diusahakan dan dikebut di tiap lumbung-lumbung pemrosesan padi se-Kabupaten Bojonegoro.

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, ada 600.000 kilogram beras yang bakal disuplai langsung dari kabupaten Bojonegoro. Bojonegoro memegang amanah yang tak bisa disebut kecil, menggenapi pengiriman diplomasi kemanusiaan tahap pertama, 1000 ton atau 1 juta kilogram beras lewat Kapal Kemanusiaan.

ACTNews singgah di Bojonegoro untuk bertemu dengan Muhammad Arif Wahyudin, pemilik pemrosesan beras Sumber Ekonomi, berada di Desa Pacul Kabupaten Bojonegoro. Arif adalah motor penggerak puluhan desa-desa di Kabupaten Bojonegoro. Setiap desa yang punya koperasi skala kecil penggilingan beras diajak terlibat dalam pemrosesan 600.000 kilogram beras.

Dari Arif, ACTNews merekam se-paket keseriusan dan kerja hebat untuk menjamin kualitas beras tetap dalam level terbaik sebelum dikapalkan hingga Somalia.

“Kita sortir semua yang masuk dari koperasi desa-desa sepanjang Bojonegoro. Amanah Kapal Kemanusiaan untuk Somalia beras kualitas medium, satu tingkat di bawah beras terbaik. Spesifikasinya, beras broken rata-rata 25% maksimum 30%, lalu kadar air maksimum 14,5%, kemudian derajat sosoh atau derajat keputihan beras sekitar 80-90%,” kata Arif menjelaskan pada ACTNews di gudang penggilingan beras miliknya, tepat di tepian jalan utama Desa Pacul, Kabupaten Bojonegoro.

Memastikan beras yang bakal dikirim ke Somalia adalah jenis beras terbaik bukan pekerjaan yang mudah. Di gudang penggilingan beras milik Arif saja ada dua buah mesin besar setinggi kurang lebih lima meter yang terus bergemuruh. Mesin penggeraknya adalah mesin diesel yang dicopot dari mesin truk.

“Mesin besar di gudang saya itu adalah mesin pemroses beras untuk memoles dan membersihkan beras. Tapi jangan salah sangka, air yang digunakan untuk membersihkan beras kita gunakan air mineral. Air yang kita pakai untuk minum sehari-hari. Tidak ada bahan kimia berbahaya yang kita gunakan di Bojonegoro,” papar Arif.

Ketika beras diolah hingga siap dipangan tanpa melibatkan bahan kimia berbahaya sama sekali, beras itu bisa disebut sebagai beras terbaik. Jenis beras terbaik biasanya adalah beras dengan harga jual paling tinggi, karena ada jaminan mutu yang dijaga sampai beras itu terkemas dalam karung-karung siap jual.

“Kami di Bojonegoro sepakat tidak menggunakan bahan kimia berbahaya untuk memproses beras. Di gudang penggilingan saya, hanya ada air mineral murni. Air bersih dan matang siap minum yang dipakai untuk memoles beras, memutihkan beras, membersihkan kotoran yang menempel, membersihkan bekatul (lapisan luar beras),” ujar Arif.

Kalau untuk menjaga kualitas beras hitungan puluhan ton dan akumulasi ribuan karung, bisa jadi hanya rutinitas biasa di gudang penggilingan beras milik Arif. Tapi beda ceritanya kalau dalam beberapa hari ke belakang beras yang diolah Arif dan puluhan pekerjanya adalah beras yang bakal dikirimkan ke Somalia.

“Kalau beras itu bersih, kualitasnya baik, kandungan airnya bisa dikontrol, maka umur berasnya bisa lebih panjang. Bisa terjaga kualitasnya di dalam kontainer kapal sampai ke Somalia,” ujar Arif.

Hingga sore itu, jelang matahari perlahan sudah lenyap, tapi raungan mesin besar pengolah beras milik Arif belum berhenti beroperasi. Lebih dari 60 liter per-hari konsumsi solar yang dihabiskan untuk memutar diesel mesin pengolah beras itu. Tak terhitung juga ratusan galon air mineral siap minum yang dibeli hanya untuk dimasukkan ke bak penampung air. Bak penampung yang mengalirkan airnya ke dalam mesin besar, untuk memoles dan membersihkan beras sebelum siap dikirimkan ke Somalia.

“Tidak semua beras yang masuk dari desa-desa sekitar Bojonegoro harus dimasukkan ke mesin besar lagi. Kita sortir yang terbaik. Karung-karung besar yang masuk ke gudang ini kita cek kualitasnya, kalau derajat sosohnya di bawah 80% kita pisahkan, perlu dibersihkan dan dipoles lagi, ditingkatkan derajat sosoh sampai 90%,” jelas Arif.

Tentang beras Kapal Kemanusiaan untuk Somalia, bukan hanya seribu karung, bukan hanya ribuan kilogram beras yang sedang disiapkan. Kalau dikalkulasikan seluruhnya, Kabupaten Bojonegoro punya amanah 600.000 ton, atau setara dengan 24.000 karung yang dibagi rata 25 kilogram per-karung.

Bayangkan saja, jumlah beras sebanyak itu harus tetap terjaga proses dan kualitas mutunya setiap butir. Jaminan beras terbaik untuk Somalia ditebus dengan kerja lembur di tiap gudang beras hingga pelosok desa di Bojonegoro.

“Orang Somalia harus tahu bagaimana rasa beras terbaik paling enak dari Bojonegoro,” pungkas Arif. []

TAGS