DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kabar dari Sudut Donggala: Warga Bertahan untuk Bangkit

Emergency Response
Kabar dari Sudut Donggala: Warga Bertahan untuk Bangkit

ACTNews, DONGGALA - Jalan meliuk, di tepi pantai Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Tak ramai jalanan hari itu, Jumat (12/10), hanya beberapa mobil kecil lewat, dan tak jarang dijumpai truk besar pengangkut alat berat juga bantuan bagi korban gempa bumi dan tsunami di Sulsel. Siang itu, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bergerak menuju Desa Alindau, Sindue Tobata, Donggala.

Jalan trans Sulawesi dari Palu ke Donggala arah Tolitoli masih terdapat longsoran. Tebing tepi jalan di sebelah kanan ke arah Tolitoli longsor akibat gempa magnitudo 7,4 pada Jumat (28/9) silam. Separuh badan jalan di beberapa titik masih belum dibersihkan, menghalangi pengendara yang lewat. Setiap pengemudi perlu hati-hati, jalan menjadi licin akibat diselimuti sisa lumpur longsoran, terlebih saat hujan.

 

Perlu waktu tempuh lebih kurang 95 menit dari pusat Kota Palu ke Alindau. Hari itu, ACT membagikan paket beras, dan sembako lainnya ke pengungsi di Dusun Lima. Enam dusun bergabung di satu area untuk mengungsi. Di tengah sawah dengan bukit hijau mengelilingi mereka, pengungsi tinggal di bawah atap dan beralas terpal, tanpa dinding penghalang angin.

Salah satu pengungsi, Erwin, mengatakan di Alindau dua orang meninggal dunia. Satu orang tertimpa bangunan saat gempa menghantam magrib itu. Sedangkan seorang lagi meninggal di pengungsian. “Yang meninggal di pengungsian itu ibu hamil 7 bulan, karena trauma,” tuturnya, Jumat (5/10).

 

Di Alindau, sampai saat ini masih 53 kepala keluarga berlindung di bawah tenda pengungsian. Sebelum itu angkanya lebih banyak, akan tetapi sebagian sudah kembali ke rumah mereka yang masih utuh, walau dalam keadaan rusak ringan. Untuk yang rumahnya hancur, korban memilih bertahan di tenda pengungsian. “Rumahku hancur sudah karena gempa,” kata salah satu pengungsi Satiyah.

Potensi pertanian

Pemandangan hamparan sawah padi menemani perjalanan ke Dusun Lima, tempat warga di enam dusun Desa Alindau mengungsi. Beberapa petak sudah selesai panen, tinggal menyisakan damennya saja. Tapi, tidak sedikit juga petak sawah yang sudah menguning daunnya, merunduk biji beras tanda siap dituai. Terlihat juga dua orang petani sedang memisahkan biji padi dengan pohonnya.

 

Di desa Alindau, sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani. Tanah yang subur dan ketersediaan air bersih melimpah, udaranya juga sejuk karena dikelilingi bukit-bukit hijau.

Pascagempa magnitudo 7,4 dua pekan silam, warga kehilangan harta benda mereka, termasuk modal untuk bertani. Erwin, salah satu pengungsi berharap untuk setelah bencana ini mereka dapat kembali menggarap area sawah yang saat ini masih dijadikan lahan mengungsi. “Kami ingin mendapatkan modal dan ketersediaan bahan untuk bertani padi lagi, pertanian kami ingin diberdayakan,” ujarnya sambil menunjukkan luasnya areal sawah.

 

Harapan untuk bangkit dan pulih dari bencana telah tertanam dalam benak Erwin dan warga lainnya di Alindau. Harapan ini tumbuh, bersamaan dengan ketegaran untuk menyambung hidup sementara waktu di pengungsian. []

TAGS