DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kala Tanah Kelahiran di Yerusalem Digusur Israel

Let's Save Palestine
Kala Tanah Kelahiran di Yerusalem Digusur Israel

ACTNews, YERUSALEM Rasa pedar, serupa dengan pil pahit yang terpaksa harus ditelan oleh warga Palestina setiap harinya, baik yang bermukim di Kota Tua Yerusalem maupun di Gaza yang terblokade. Kali ini kabar getir datang dari salah satu keluarga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah, sebuah wilayah yang berada di Yerusalem. Rumah yang menjadi tempat bernaung dan saksi atas kelahiran keluarga Sabbagh terancam sirna. Pasalnya, militer Israel telah memberikan peringatan kepada keluarga Sabbagh untuk dilakukan penggusuran.

Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Israel dalam bentuk penggusuran rumah warga Palestina, bukan kali pertama dilakukan. Upaya represif ini terjadi berulang-ulang, seakan merenggut rumah warga Palestina adalah hal biasa yang dilakukan oleh Israel.

Masih hangat di benak kita, bagaimana September tahun 2018 lalu ratusan warga Khan Al Ahmar, Tepi Barat, Palestina, berjuang untuk mempertahankan tanah kelahirannya dari gusuran Israel. Namun nihil, jerit tangis ratusan jiwa warga Palestina itu sama sekali tak menjadi pertimbangan untuk Israel mengurungkan kekejiannya.

Sama halnya dengan penggusuran di Khan Al Ahmar, nasib keluarga Sabbagh yang diisi oleh 45 orang itu kini terancam terusir secara paksa oleh pihak otoritas Israel. Keluarga Sabbagh was-was dengan kondisi ini, pasalnya pihak Israel bisa datang kapan saja untuk merobohkan rumahnya. Sama halnya yang pernah dirasakan oleh tetangganya.

“Orang Israel dapat datang kapan saja untuk mengusir kami dari rumah kami,” ujar Ramziyeh 31 tahun, salah satu keluarga Sabbagh yang akan melahirkan dalam kurun waktu lima hari, melansir Al Jazeera.

Sabtu (12/1), ketika pihak otoritas Israel menyerahkan perintah penggusuran, keluarga Sabbagh meminta untuk menangguhkan proses penggusurannya. Lima saudara laki-laki, istri, anak-anak dan cucu keluarga Sabbagh diberikan waktu sampai 23 Januari, atau sepuluh hari setelah surat perintah penggusuran diberikan.

Kecil harapan untuk keluarga Sabbagh

Rasa cemas menggelayuti keluarga Sabbagh setiap harinya. "Saya menyaksikan mereka mengusir tetangga kami," kata Khadija yang berusia 55 tahun, istri Mohammad. Khadija menjadi saksi mata, betapa otoritas Israel menggunakan berbagai upaya represif untuk menjalankan penggusuran.

"Itu mengerikan. Mereka menyerbu rumah mereka saat mereka tidur dan mengusir mereka. Aku lebih suka mati daripada kehidupan seperti ini; siksaan lambat yang menggerogoti saraf," Khadija melanjutkan dengan air mata mengalir di pipinya, seperti dikisahkan Al-Jazeera.

Sementara Zakaria Odeh, Direktur Koalisi Masyarakat untuk Hak-hak Palestina di Yerusalem menjelaskan, ada sedikit harapan untuk keluarga Sabbagh. "Pengadilan menolak memeriksa berkas-berkas itu. Kami tahu bahwa kami berada di bawah pendudukan Israel, harus berurusan dengan pengadilan, tetapi kami berusaha untuk menunda penggusuran sejauh mungkin," kata Odeh kepada Al Jazeera.

Upaya penguasaan pemukiman Palestina di Yerusalem Timur telah lama ditargetkan oleh pihak otoriter Israel. Bahkan di bulan Januari 2019 ini saja, sudah ada sembilan kasus penggusuran pemukiman Palestina yang berhadapan langsung dengan Pengadilan Israel seperti keluarga Sabbegh di Sheikh Jarrah. Sedangkan di Silwan, Selatan Kota Tua, ada sekitar 700 warga Palestina saat ini sedang  menghadapi penggusuran dan pemindahan serupa, tak ada yang bisa menjamin nasibnya akan seperti apa. Bagi mereka, melanjutkan hari-hari ke depan sama dengan melanjutkan harapan semu akan tanah dan rumah yang tak jadi dijajah oleh Israel. []