DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kapal Kemanusiaan Kembali Singgah di Distrik Akat

Emergency Response
Kapal Kemanusiaan Kembali Singgah di Distrik Akat

ACTNews, ASMAT – Respons cepat benar-benar dibutuhkan. Aksi nyata di fase pemulihan pasca-KLB gizi buruk dan campak yang merundung Kabupaten Asmat menjadi prioritas. Aksi Cepat Tanggap (ACT) bergerak menelusuri beberapa kampung di beberapa distrik di Asmat.

Pergerakan di fase pemulihan ini berfokus pada urusan distribusi bantuan pangan berupa beras. Bulir-bulir beras pilihan diboyong dari Merauke lewat program Kapal Kemanusiaan untuk Papua.

Rabu (14/2), Kapal Kemanusiaan ACT kembali merapat di Distrik Akat. Hari itu bukan pertama kalinya KK menyambangi Distrik Akat. Sehari sebelumnya, Selasa (13/2), kapal sempat bertambat di Kampung Bayiwpinam yang ada di distrik tersebut. Sementara Rabu lalu (14/2), kapal merapat di Kampung Ayam dan Kampung Wau Cisau, Distrik Akat.

Dihitung dari jarak, Distrik Akat sebenarnya tak terpisah terlalu jauh dengan Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Namun, menurut catatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, wabah campak menyebar luas di Distrik Akat.

Dimulai dengan memulihkan gizi anak-anak di Kampung Ayam, tak kurang 20 karung beras berkualitas baik diboyong dengan longboat dari sebuah gudang milik Dinas Sosial Kabupaten Asmat.

Perjalanan menyusuri sungai meliuk-liuk sekira satu jam, sampai tiba di Kampung Ayam. Di sisi dermaga, warga sudah menyambut dengan senyuman ramah. Tumpukan beras kemudian diturunkan, diangkut dengan antusias oleh warga setempat dari dermaga kampung menuju rumah bujang, rumah ada Suku Asmat.

Bantuan beras puluhan karung yang datang menjadi pemandangan membahagiakan bagi masyarakat di sana. Wajar saja, ketika fase KLB berlangsung akhir Januari kemarin, kampung ini merupakan wilayah terjangkit kasus campak cukup parah.

Kami, tim ACTNews menghimpun data, setidaknya sebanyak 114 anak terjangkit campak, bahkan satu balita meregang nyawa karena campak. Hingga masuk fase pemulihan, korban campak masih datang silih berganti. Puskesmas Distrik Akat menunjukkan data, masih tersisa 37 anak yang dirawat di ruang perawatan.

Karelkar selaku Sekretaris Kampung Ayam mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas respons dari ACT yang peduli dengan kondisi warganya.

“Kami tak menyangka, hari ini dapat berkah dari Tuhan melalui saudara-saudara dari ACT. Semoga tuhan memberkati kita semua,” ucapnya seusai penyerahan simbolis beras di dalam rumah bujang.

Kampung Ayam dihuni sebanyak 650 jiwa dari 220 kepala keluarga. Kampung ini merupakan salah satu kampung terdekat dari Distrik Agats, ibu kota Asmat. Kebanyakan lelaki di Kampung Ayam beraktivitas sebagai nelayan atau bertani sayur, antara lain kangkung, dan sawi.

Distribusi beras untuk Kampung Wau Cisau

Masih di hari yang sama, perjalanan Kapal Kemanusiaan kembali berlanjut. Usai dari Kampung Ayam, tim ACT kembali bergerak menyusuri sungai-sungai berliku nan panjang di sekitar Kabupaten Asmat. Hari itu, arus sedang tenang, perjalanan menembus alur sungai tak terlalu terombang-ambing. Namun panas terik tetap menyengat, meski pagi harinya hujan deras sempat mengguyur Asmat.

Dari Kampung Ayam, tim ACT memboyong lagi 20 karung beras berikutnya untuk Kampung Wau Cisau, Distrik Akat.

Dari data yang dicatat oleh kepala kampung, Wau Cisau dihuni oleh 611 warga dari 136 Kepala Keluarga. Tak ada yang aneh dari data populasi penduduk Wau Cisau. Sampai kami, Tim ACTNews menemukan satu kenyataan, Wau Cisau menjadi salah satu kampung dengan jumlah korban campak terbanyak sepanjang KLB campak dan gizi buruk Januari lalu.

Yunus, Kepala Kampung Wau Cisau mengatakan, wabah campak di kampungnya tergolong parah. Puluhan anak terserang campak, lima anak meregang nyawa karena diagnosis campak parah. Lebih nahas lagi, dua anak bayi yang baru dilahirkan juga meregang nyawa karena wabah campak. Hingga saat ini, anak-anak yang terserang campak masih dirawat di Puskesmas Distrik Akat.

“Anak-anak di sini banyak yang terserang campak, kurang lebih 28 orang. Lima meninggal dan 23 masih ditangani oleh Puskesmas Akat,” ungkap Yunus, Kepala Kampung Akat.

Di Kampung Wau Cisau, 20 karung beras sudah dititipkan ke Kepala Kampung. Serah terima beras dilakukan lagi di rumah bujang. Di Asmat, semua kampung punya rumah bujang masing-masing.

Wabah campak mulai mereda, tapi fase pemulihan tetap butuh waktu cepat untuk direspons. Kapal Kemanusiaan merapat di Kampung Wau Cisau, kirimkan bantuan beras yang dibutuhkan di fase pemulihan. Beras dikirimkan untuk menyasar perbaikan gizi bagi anak-anak Asmat.

“Saya mewakili warga Kampung Wau Cisau, sangat berterima kasih atas bantuan dari ACT. Semoga bisa memperbaiki gizi anak-anak kami disini,” ujar Yunus.

Perjalanan Kapal Kemanusiaan untuk Papua masih berlanjut. Seratus ton beras sudah tersimpan untuk sementara di gudang dekat pelabuhan yang dikelola Dinas Sosial Kabupaten Asmat. Demi memastikan bantuan beras menjangkau sebanyak 224 kampung di 23 distrik di Asmat, ACT berkolaborasi dengan Dinas Sosial.

“Alhamdulillah, satu demi satu amanah Kapal Kemanusiaan Papua sudah didistribusikan. Total ada 4.000 karung beras, ribuan biskuit, dan ribuan air mineral yang dibawa ACT lewat Kapal Kemanusiaan untuk memulihkan Asmat. Seluruh proses distribusi bantuan akan merata, kolaborasi antara ACT dan Dinas Sosial Kabupaten Asmat,” pungkas Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President ACT. []