DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kurban di Atambua, Bantu Muslim Hadapi Kesulitan

Global Qurban
Kurban di Atambua, Bantu Muslim Hadapi Kesulitan

ACTNews, BELU - Siapa yang tak mengenal Pulau Timor? Pulau yang terkenal dari kacamata eksotisme. Baik darat maupun laut, Pulau Timor punya nilai istimewa. Bukan hanya itu, ada juga ras dan adat istiadat yang menjadikan pulau itu mewah dengan kebudayaan. Rumah-rumah kayu beratap jerami, lumbung dan kandang ternak, hingga kain tenun tradisional yang bercorak khas, punya identitas sebagai tenun dari Timor.

Namun, di luar itu semua, Pulau Timor memiliki cerita abu-abu tentang masyarakatnya. Tentang mereka, para pengungsi eks-Timor Timur yang kini tinggal di beberapa titik di Kecamatan Atambua, Kabupaten Belu. Tentang mereka, kaum Muslim minoritas yang menjadi warga eksodus akibat konflik Dili pada 1999 lalu. Tentang mereka, orang-orang yang kini sudah menjadi bagian dari Indonesia.

Pada 1999, tercatat 250.000 warga eksodus, lalu memilih tinggal dan menetap di wilayah yang tersebar seantero Atambua.  Jumlah itu menurun akibat banyak warga yang memilih pergi ke kota dan mencoba mencari peruntungan. Sedang mereka, sisanya, terpaksa harus cari cara untuk dapat bertahan hidup. Berbagai pekerjaan mereka lakoni: nelayan serabutan, petani serabutan, semua tak menentu.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan membuat mereka mengalami banyak kesulitan. Mereka tak bisa menghasilkan uang untuk membeli setiap kebutuhan. Akibatnya hingga saat ini kehidupan mereka masih sangat sederhana, bahkan terkadang serba tidak ada.

Memenuhi kebutuhan pangan, hanya mengandalkan dari hasil alam. Beras dan sayuran dari ladang, lauk pauknya dari ternak dan juga lautan. Seribu - puluhan ribu Rupiah, habis di pasar untuk membeli perlengkapan primer lain selain makanan.

Global Qurban di Tapal Batas Atambua

Satu tahun silam, Global Qurban sempat menyapa masyarakat Atambua yang bermukim di Desa Aitaman, salah satu kawasan para warga eksodus Timor-Timur bertempat tinggal. Meski hidup sebagai minoritas, rupanya momen Iduladha juga turut hadir di antara mereka.

Di sana takbir memang tak seramai masjid di kota-kota besar, namun itu tidak menyurutkan semangat mereka dalam berhari raya.

Terbukti ketika itu, warga sudah mulai berdatangan sejak pagi. Mereka berkumpul di salah satu rumah warga untuk menantikan prosesi pemotongan sapi yang dibawa oleh tim Global Qurban. Momen itu memunculkan antusiasme warga untuk ikut mengambil peran di setiap proses pemotongan. Mereka juga turut mempersiapkan makanan, disantap bersama dengan para saudara yang datang dari desa tetangga.

"Sangat jarang kita bisa berkumpul seperti ini, makan bersama dengan lauk yang sangat istimewa bagi kami, terima kasih banyak bapak ibu semuanya,” ungkap Maina salah satu warga yang sudah menatap menjadi warga eks Tim-Tim di Aitaman sejak tahun 2003.

Desa Aitaman hanya menjadi salah satu titik di Atambua yang disambangi oleh tim Global Qurban, masih terdapat beberapa desa lagi di antaranya Desa Haekrik, Desa Sukabitektek, dan Desa Kletek. Desa-desa yang menjadi pemukiman para pengungsi Eksodus Timor Timur. Desa-desa yang juga menjadi saksi kisah mereka menghadapi berbagai kesulitan.

Kurang dari dua bulan lagi, umat Muslim akan menyambut kedatangan momen Hari Raya Iduladha atau Hari Raya Qurban. Dengan begitu, tim Global Qurban-ACT  pun tengah mempersiapkan diri untuk menyambut hari istimewa itu.

Insya Allah, warga Muslim di Atambua kembali menjadi salah satunya yang akan disambangi dalam perayaan ibadah kurban. Yang jauh saja disapa, apalagi yang dekat. Menyapa tapal batas, mengirim kurban untuk penjaga negeri di perbatasan Atambua - Timor Leste. []