DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Letusan Freatik Membubung 700 meter, Mengenal Karakter Erupsi Gunung Agung

Letusan Freatik Membubung 700 meter, Mengenal Karakter Erupsi Gunung Agung

ACTNews, KARANGASEM - Dari kejauhan, di puncak Gunung Agung tampak menyembul asap tebal tinggi, pekat, dan kelabu. Gumpalan “awan” kelabu itu muncul tepat pukul 17.35 WITA, Selasa (21/11) kemarin. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) lekas mengeluarkan pernyataan, Gunung Agung setinggi 3.031 meter di atas permukaan laut itu sudah erupsi.

Namun demikian, erupsi Gunung Agung hanya berupa erupsi freatik. Letusan tersebut berbeda dengan erupsi magmatik yang meluapkan magma merah berpijar dari dalam dapur kawah Gunung Agung.

Imbas dari letusan freatik Gunung Agung Selasa sore kemarin pun tak sampai meningkatkan status levelnya. Sampai tulisan ini diunggah, Status Gunung Agung masih berada di level III atau Siaga, setingkat di bawah level IV (Awas). Dalam level III (Siaga) ini, PVMBG mengatakan level radius bahaya Gunung Agung tetap berada dalam radius 6-7.5 km dari puncak kawah.

Ketika Selasa kemarin kepulan asap tebal membubung dari pucuk Kawah Gunung Agung, PVMBG menyimpulkan, erupsi yang terjadi hanya berupa erupsi freatik. Lantas, apa itu letusan freatik? Bagaimana sebenarnya karakter erupsi Gunung Agung?

Menghindari beragam informasi simpang siur yang muncul di masyarakat, menjadi urgen untuk mengetahui lebih jauh bagaimana sesungguhnya pola letusan atau erupsi yang bakal keluar dari puncak Gunung Agung.

Letusan freatik Gunung Agung, letusan pembuka sebelum letusan magmatik

Mengutip pernyataan Desa Made Indra selaku Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, jangan sampai informasi yang simpang siur membuat kepanikan di masyarakat. Menurut Made, letusan yang terjadi Selasa sore kemarin merupakan bentuk letusan freatik, atau letusan pembuka yang tak terlalu membahayakan ketimbang letusan magmatik yang biasanya jauh lebih besar.

Sementara itu, jika letusan magmatik sudah terjadi, yang terlontar dari mulut kawah adalah letusan berupa magma yang membubung dan tumpah dari perut gunung.

Memahami lebih jauh tentang letusan freatik, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, letusan freatik itu terjadi karena adanya uap air bertekanan tinggi.

“Uap air terbentuk ketika adanya pemanasan air bawah tanah, atau karena air hujan yang meresap masuk ke dalam tanah. Lalu air di dalam kawah kontak langsung dengan magma panas yang bergemuruh di dapur vulkanik Gunung Agung,” papar Sutopo.

Kronologis seperti yang dijelaskan oleh Sutopo itulah yang Selasa sore kemarin terjadi di Gunung Agung. Letusan freatik meletup, disertai dengan asap, abu, dan material lain yang ada di dalam kawah.

Mengapa disebut sebagai letusan pembuka? Simak saja letusan Gunung Sinabung misalnya. Kala itu, letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung lama sebelum disusul dengan munculnya letusan magmatik. PVMBG mencatat, letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung dari tahun 2010 sampai tahun 2013. Hingga akhirnya letusan besar magmatik Gunung Sinabung muncul pada tahun 2013.

Meski bukan sesuatu yang terlalu dikhawatirkan, letusan freatik Gunung Agung tak boleh dianggap sepele. Radius zona bahaya masih ditetapkan sejauh 7,5 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung.

“Bukan sesuatu yang aneh jika letusan freatik muncul dari sebuah gunung api yang berada dalam status di atas normal. Tapi letusan freatik pun bisa membawa dampak yang cukup berbahaya. Biasanya akan berujung pada hujan abu, pasir, dan kerikil di desa-desa sekitar tubuh Gunung Agung,” pungkas Sutopo. []

TAGS