DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Lumpur Menggunung Sisa Banjir Banyuwangi

Emergency Response
Lumpur Menggunung Sisa Banjir Banyuwangi

ACTNews, BANYUWANGI – Bau amis merebak di seluruh sudut jalan kecil Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Ahad (24/6) pagi, hujan yang turun gerimis bahkan makin menambah becek jalan penuh lumpur. Ada yang cair, ada yang kental, ada yang masih mengendap setinggi hampir semeter. Sisa banjir bandang di Alasmalang benar-benar membuat porak-poranda hampir di seluruh desa.

Kasur, sofa, lemari, baju yang menggantung di lemari, dan berbagai perabotan rumah lainnya hampir dipastikan tak ada lagi yang bisa digunakan. Lumpur banjir menempel di semua sisi rumah, di teras, hingga jalan-jalan desa. Air bersih pun nihil, sebabnya sumur tak lagi berisi air, lumpur kental menutup nyaris sampai ke permukaan sumur.

Belum lagi dengan sisa-sisa sampah batang pohon yang tercabut hingga ke akar-akarnya. Pohon yang terbawa banjir bandang dari lereng Gunung Raung itu sempat menerjang pemukiman warga di Desa Alasmalang. Rumah yang dihantam batang-batang pohon besar dipastikan hancur, tembok retak, kaca pecah.

Melansir Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, sedikitnya terdapat 328 unit rumah rusak. Dengan rincian 23 rumah rusak berat, 80 unit rumah rusak sedang, dan 225 rumah mengalami rusak ringan.

Tim Emergency Response ACT dibantu oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Timur mengatakan, sedikitnya ada empat titik paling terdampak banjir di Desa Alasmalang.

“Kerusakan paling parah terdapat di empat dusun. Meliputi Dusun Garit, Dusun Bangunrejo, Dusun Karangasem, dan Dusun Wonorekso,” ujar Faruq, salah satu tim MRI Jawa Timur asal wilayah Malang.

Tak Lelah Berkubang Lumpur

Sepanjang hari Ahad (24/6) kemarin, gabungan MRI Jawa Timur turun tangan, membersihkan tumpukan lumpur yang menggunung di Dusun Bangunrejo, Desa Alasmalang.

Berbekal sekop, penggaruk tanah, pompa air, dan alat pelindung diri lengkap, belasan relawan MRI berkubang lumpur. Di tembok rumah berbekas jelas bekas lumpur yang tertinggal. Dari jejak lumpur yang tertinggal, satu meter hingga dua meter ketinggian banjir bandang masih nampak terbayang. 

“Total tim relawan yang turun berjumlah 15 orang. Gabungan dari MRI se-Jawa Timur. Fokus kami membersihkan rumah warga, masjid, dan akses jalan menuju ke masjid,” ujar Samsul Alifin, perwakilan tim relawan MRI Jawa Timur.

Hingga laporan ini diturunkan, sekitar 1.500 warga terdampak banjir masih enggan untuk kembali ke rumah masing-masing. Sebagian besarnya memilih mengungsi ke rumah saudara-saudara terdekat yang tak terkena banjir. Sebagian lainnya melewati malam di ruang tamu rumah tetangga-tetangga yang tak dilewati air banjir.

“Bantuan dasar yang paling dibutuhkan berupa pakaian layak pakai, bahan makanan untuk dapur umum, alas tidur, dan alat untuk membersihkan lumpur berupa sekop, dan pompa air,” ujar Alifin mengabarkan pesan singkat langsung dari Posko ACT di Jalan Raya Alasmalang, Singojuruh, Ahad (24/6). []