DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Masa Depan Pendidikan Anak Rohingya Masih Kelabu

Let's Help Rohingya
1

ACTNews, RAKHINE –  Ibrahim Mohammad (10) adalah siswa tahun keempat sekolah dasar di Rakhine. Namun, sudah 17 bulan ia tidak lagi merasakan belajar di sekolah formal. Ibrahim harus pergi jauh meninggalkan kampung halaman dan juga sekolahnya, menembus batas negara menuju Bangladesh.

Pembakaran massal desa-desa di Rakhine Utara pada Agustus 2017 lalu membuat lebih dari 723.000 jiwa etnis Rohingya eksodus ke Bangladesh. Sejumlah lembaga kemanusiaan memperkirakan, 60 persen dari para pengungsi itu adalah anak-anak. Ibrahim dan keluarganya termasuk bagian dari kelompok itu.

Masih jelas di ingatan Ibrahim ketika rumah milik orang tuanya dibakar militer Myanmar, kakeknya ditembak mati, bahkan orang tuanya harus membawa ia dan adik bayinya ke hutan untuk berlindung.

Menurut Eleyas, Ibrahim menjadi lebih murung dan jarang tersenyum. “Tidak lagi sekolah membuat segala sesuatu semakin buruk,” imbuhnya.

Sejumlah anak dari kalangan etnis muslim Rohingya mendapat penolakan pendidikan di kalangan mayoritas Budha setelah konflik pecah pada awal 2012. Sekolah pemerintah yang mengajar anak-anak Rohingya dalam bahasa Burma segera ditutup setelah serangan tentara Myanmar Agustus 2017 lalu.

PBB menyatakan Rohingya sebagai etnis yang paling medapat perlakuan persekusi saat ini. Belum ada titik terang terkait masa depan para pengungsi Rohingya, termasuk tentang pendidikan anak-anak mereka.

Banyak faktor yang membuat masa depan pendidikan pengungsi anak Rohingya masih kelabu. Selain keterbatasan fasilitas, disabilitas yang dialami sejumlah anak karena cedera akibat kekerasan massal setahun silam adalah penyebabnya. “Anak-anak mengalami cedera dan trauma dari luka tembak atau pun kekerasan ekstrem. Hal itu menghambat pergerakan dan pelayanan akses (pendidikan),” ungkap Iffat Farhana, Petugas Pendidikan untuk Badan Dana Anak PBB (UNICEF) berbasis di Cox’s Bazar kepada Time akhir Januari lalu.

UNICEF memperingatkan tentang masa depan yang suram pengungsi anak Rohingya di Cox’s Bazar. “Jika saat ini juga kita tidak membuat investasi di bidang pendidikan, kita akan menghadapi kenyataan menyeramkan tentang hilangnya generasi anak-anak Rohingya,” ujar representatif UNICEF untuk Bangladesh Edouard Beigbeder.

Sejak 2017, Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan masyarakat Indonesia turut berikhtiar mendukung pendidikan bagi anak Rohingya. Bantuan itu disampaikan dalam bentuk program Teacher Sponsorship. Beaguru diberikan kepada ratusan guru Rohingya yang aktif dan sukarela mengajar pengungsi anak Rohingya.

“Ini bagian dari ikhtiar ACT untuk membangun kembali kehidupan Rohingya, utamanya di bidang pendidikan. Harapannya, guru-guru Rohingya yang berdedikasi akan terus bersemangat memajukan pendidikan generasi penerusnya,” terang Sucita Pri Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) - ACT. []