DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Masih Trauma, Siswa pun Enggan Sekolah

Pemulihan Pascabencana
Masih Trauma, Siswa pun Enggan Sekolah

ACTNews, LOMBOK BARAT - Siapa sangka tragedi gempa Lombok masih tinggalkan trauma? Namanya Zulkahfi, siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiah (MI) Raudlatusshibyan NW Dusun Belencong, Desa Midang, Kabupaten Lombok Barat. Bocah 6 tahun ini mengaku masih merasakan trauma mendalam akibat gempa.

Sebelum gempa yang terjadi berturut-turut di Lombok, Zulkahfi adalah seorang anak yang mandiri dan pemberani. Setiap hari ia berangkat ke sekolah tanpa harus diantar maupun dijemput. Meski ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit berjalan kaki karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh.

Namun, sudah seminggu Sukiah, sang ibunda harus mengantar dan menemani Zulkahfi ke sekolah. Rupanya tragedi gempa sejak Ahad (29/7) itu menyisakan rasa trauma yang cukup mendalam bagi Zulkahfi. Ia sudah tidak berani lagi ke sekolah seorang diri. Apalagi gempa susulan masih sering terjadi.

“Sempat tidak sempat saya harus mengantar dan menemaninya. Kalo ndak begini, dia ndak mau sekolah,” kata Sukiyah.

Sebenarnya aktivitas belajar-mengajar Yayasan Raudlatusshibyan sudah berlangsung sejak Senin (2/9). Namun, tidak semua siswa kembali masuk sekolah. Itu karena masih banyak dari mereka yang takut kalau gempa susulan kembali terjadi. Bahkan kegiatan sudah dilakukan di luar ruangan dengan menggunakan tenda darurat dan juga musala yang bangunannya terbuka tanpa dinding.

“Kalau ada guncangan sedikit saja, anak-anak itu langsung lari-lari sambil nangis. Mereka masih trauma, saya juga tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya” ujar Ibu Sukiyah.

Hadiah untuk Zulkahfi dan teman-teman

Trauma mungkin sukar hilang sepenuhnya, namun bukan berarti tak ada cara untuk menguranginya. Sabtu (15/9) pagi, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali mengunjungi Madrasah Ibtidaiah (MI) Raudlatusshibyan NW, tempat Zulkahfi dan teman-teman bersekolah. Tak hanya melakukan Dukungan Psikososial (trauma healing), tim juga membagikan 50 paket perlengkapan sekolah, hadiah untuk mereka.

Antusiasme khas anak-anak pun muncul. Anak-anak sigap berbaris, menanti pembagian tas sekaligus alat tulis yang tim ACT bawa. Ketika hadiah sudah di tangan, rona bahagia pun terpancar dari senyuman di wajah mereka. Tentu, ACT berharap upaya pembinaan dan pemberian hadiah itu sedikitnya bisa mengurangi trauma. Dengar Tagar Indonesia Bersama Lombok, ACT mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bergerak bersama, membantu memulihkan Lombok. []