DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Meluaskan Maslahat Wakaf di Blora

Global Wakaf
Meluaskan Maslahat Wakaf di Blora

ACTNews, BLORA - Masyarakat Blora dan pertanian adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagian masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani. Bahkan pertanian merupakan salah satu sektor utama dari perekonomian Blora. Tak heran, di beberapa desa di Blora terlihat sapi dan kambing berkeliaran dengan bebasnya di samping juga terlihat luasnya hamparan sawah.

Namun, Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ini belum dikelola secara optimal sehingga manfaatnya belum dirasakan luas oleh masyarakat Blora. Mereka termasuk ke dalam masyarakat dengan perekonomian terendah di Jawa Tengah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), terhitung sampai 2017, penduduk miskin di Blora sebesar 13 persen dari jumlah penduduk Blora atau sekitar 113 ribu warga miskin. Ini menyebabkan Blora menempati peringkat ke-21 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah tentang masalah kemiskinan.

Masalah inilah yang menjadi salah satu semangat Global Wakaf (GW) untuk menerapkan Desa Wakaf (DW) di beberapa desa di Blora. Hal tersebut menjadi ikhtiar untuk meluaskan maslahat wakaf di Blora. Sehingga, secara perlahan mampu memberdayakan masyarakat lokal dan mengentaskan kemiskinan di wilayah tersebut.

“Konsep DW sendiri secara singkat didefinisikan sebagai desa mandiri dengan mendayagunakan dana wakaf untuk membangun infrastruktur dan memberdayakan ekonomi masyarakat,” ujar Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur Program Desa Wakaf.

Mengentaskan kemiskinan

Sebelumnya, di Blora sendiri sudah terdapat banyak aset portofolio program wakaf yang selama ini dikelola oleh Global Wakaf selaku nazir wakaf. Aset wakaf tersebut di antaranya Lumbung Ternak Masyarakat (LTM), Lumbung Pangan Masyarakat (LPM), sumur pertanian, sumur masyarakat, perahu nelayan, huler, pengering gabah, gudang beras, armada truk, dan lain-lain.

Manfaat dari DW dirasakan langsung oleh beberapa desa seperti Desa Gadu, Desa Sambongrejo, Desa Pojokwaktu dan Desa Gagakan, Kecamatan Sambong. Di desa-desa ini terdapat 20 kandang dengan total ternak 3.535 di LTM. Adapun di Desa Gadon, Jipang, Kapuan, Cabean, dan Kentong Kecamatan Cepu juga ada LTM yang mengelola sekitar 3.000 ekor ternak. LTM di kedua kecamatan tersebut telah memberdayakan total 705 peternak.

Di samping pemberdayaan masyarakat melalui LTM, juga dibentuk LPM di Desa Jipang, Kecamatan Cepu. LPM membantu lebih dari 2.000 petani dalam mengelola dan memasarkan hasil panen padi mereka.

Ribuan ton padi yang diproduksi dibeli oleh ACT dengan harga terbaik. Padi-padi ini kemudian disalurkan ke beberapa wilayah yang diterpa krisis kemanusiaan seperti Somalia, Palestina, Suriah, dan Bangladesh untuk pengungsi Rohingya.

Program dari DW tidak hanya sekedar LTM dan LPM, tetapi juga pembangunan sumur wakaf dan menggerakkan wakaf sosial untuk masyarakat desa. Keberadaan sumur wakaf ini telah dinikmati oleh lebih kurang 1.800 masyarakat desa yang tersebar di Kecamatan Sambong, Kecamatan Cepu dan Kecamatan Kedungtuban.

Adapun wakaf sosial yaitu dalam bentuk pemberian masing-masing 5 perahu kepada nelayan di Desa Jipang dan Desa Ketuwan serta pembentukan 1 mini Distribution Center (DC) di Desa Pojokwaktu.

Hadirnya DW ini disambut baik oleh masyarakat Blora.

“Kami peternak desa Gadon sangat bersyukur tau tentang LTM. Saya pribadi baru kenal dengan LTM ini. Alhamdulillah dengan LTM ini semakin mempermudah ngurus ternak dan menambah rejeki kami. Saya sangat berterimakasih,” ujar Anwar, peternak dari Desa Gadon.

Keberkahan dari DW tentunya tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Blora. Nantinya DW juga hadir di desa-desa lainnya di Indonesia untuk mewujudkan desa sebagai ujung tombak pengentasan kemiskinan. []