DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Memperbaharui Paham Filantropi

Kolom
Memperbaharui Paham Filantropi

Iqbal Setyarso

VP Media & Communication ACT

 

Kebaruan, mendorong selebrasi, hal yang memicu euforia. Merayakan kebaruan, maaf, membuat pecah konsentrasi, mengalihkan kewaspadaan pada isu-isu prinsip. Kebaruan yang dengan mudahnya memasuki “singgasana” istimewa kita, membuat lalai pada kesigapan dan kewaspadaan, membuka pintu anasir asing memasuki area strategis. Kondisi memaksa kita cermat mewaspadai hal-hal tertentu, wajib menyaring jangan sampai lolos begitu saja.

Tuntutan lembaga amat besar. Manajemen merasakan ada pelambanan target donasi. Dalam ekspektasi lembaga, telah terjadi kemunduran, bukan hanya kemandegan. Maka manajemen patut mencoba ”dua resep dasar”. Pertama, lakukan pergeseran mindset. Mulailah mengatur langkah revolutif. Langkah itu, banting stir dari cara manual ke sistemik. Kedua, mulailah melakukan pergeseran ke cara baru, jangan terus mempertahankan cara lama. Cara modern yang lebih pendek, efisien, sistemik, sudah lama tersedia. Cara baru yang layak dicoba, manfaatkan perhitungan matematis, fungsikan algoritma. Industri unumnya, menjajal itu, jadi industri filantropi pun tidak ragu menekuni itu.

Prolog

Kebaruan membawa pergeseran perilaku umat manusia. Kebaruan juga memicu pergeseran alokasi interaktif antarmanusia. Perubahan melahirkan preferensi kebiasaan baru. Di antara sejumlah hal baru itu, kita lihat pula lahirnya beragam model berderma. Bahkan untuk hal-hal yang dahulu tak terpikir, ternyata mampu memicu perhatian khalayak. Orang punya waktu untuk cenderung mandiri dalam memilih hal tertentu. Ada pula saatnya, orang menyukai keramaian untuk hal-hal yang lain.

Di sisi kita, mau tak mau, datang tuntutan baru pula. Lembaga kemanusiaan pun harus bergegas. ACT dituntut untuk membangun kebiasaan baru (melawan kebiasaan lama). Ia juga diminta menyodorkan kebiasaan baru (mendorong hal baik baru untuk menstimulasi kebiasaan baik). Apa yang disebut prolog, tak lain ikhtiar melazimkan hal baik sebagai gerakan komunitas, bahkan akhirnya jadi gerakan umat.

Terasa perlunya studi tren massa agar makin memahami modernitas sehingga mampu mengendalikan kecenderungan-kecenderungan yang muncul. Jujur saja, realitas open society menjadikan masyarakat berubah. Yang terjadi saat ini adalah kondisi di mana masyarakat bebas survei. Kian terbuka sumber publik, survei menjadi mengganggu. Teknologi untuk mengetahui data publik kian mudah.

Jauh-jauh hari saya ingatkan teman-teman, jangan silau dengan pencapaian materi. Itu hanya teknis. Hiraulah pada nilai-nilai. Mereka yang hanya mencapai prestasi materi atau duniawi, belum tentu mencapai hakikat tujuan. Jadi, jangan berlelah-lelah memburu materi saja karena itu bisa melalaikan hakikat nilai-nilai yang sejati.

Nilai-nilai baru yang sedang kita hadapi, tak lain nilai sejati yang tak kenal usang. Konsistensi menjaganya, memberi kesanggupan menjaganya sebagai nilai yang tak kenal usang. Perspektif yang lain hanya menjadikan modernitas menjadi asing dan ketinggalan karena ketiadaan nilai-nilai.

Sikap baru

Probabilitas di masa depan telah mengubah sikap ACT, juga lembaga apa pun yang mengusung nilai-nilai. Bohong, kalau mengaku mengusung nilai, tetapi pragmatisme organisasi masih menonjol. Tentu, kebaruan yang bersandar moral, menempatkan (nilai) kemanusiaan lebih tinggi dari pragmatisme.

Tekad menebar semangat baru menyemangati organisasi. Tiga isu besar kekinian menjadi urusan penting organisasi: Big Data dan Data Mining, Social Network Analysis, dan Business Intelligence.

Big data adalah tentang volume data yang besar (terstruktur maupun tidak) dan upaya maksimalisasinya. Sedangkan data mining, tentang ikhtiar membunyikan data itu sehingga memiliki makna.

Social Network Analysis merupakan piranti memetakan hubungan pengetahuan penting antara individu. Informasi merupakan sumberdaya terpenting yang mengalir dalam sebuah jaringan, sehingga SNA kerap diimplementasikan untuk mengidentifikasi arus informasi.

Sedangkan business intelligent adalah teknik dan alat untuk transformasi data mentah menjadi informasi yang berguna dan bermakna untuk tujuan analisis bisnis. Untuk simpelnya, business intelligent bisa berperan mendukung penentuan keputusan-keputusan baik yang bersifat operatif maupun strategis.

Tiga hal ini, berkelindan dengan isu kekinian. Dalam dunia ACT, berhubungan dengan yang eksponensial. Artinya, menyeriusinya akan membawanya pada ikhtiar pelipatgandaan dan percepatan. Pelipatgandaan adanya di ranah ukuran; percepatan menyasar capaian waktu, dimensinya durasi.

Ini menegaskan, ACT membawa hamba Allah di dalamnya berkarya makin besar dan makin cepat. Cobaan kian cepat, menuntut siapa pun untuk menghebatkan dirinya, termasuk organisasi kemanusiaan.

TAGS