DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Menyusuri Kulawi, Bertemu Ibnu Penyintas Gempa

Emergency Response
Menyusuri Kulawi, Bertemu Ibnu Penyintas Gempa

ACTNews, SIGI - Gempa besar dan tsunami Jumat (28/9) lalu bukan hanya tentang duka dari Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Panjangnya Sesar Palu-Koro yang menjadi pemicu gempa, menjadikan area terdampak gempa ini meluas hingga jauh ke selatan Kota Palu. Salah satu dampak kerusakan terparah ada di pelosok Kabupaten Sigi, tepatnya di Kecamatan Kulawi. Lebih tiga jam perjalanan menyusuri Poros Palu-Kulawi, dari Kota Palu terus melaju ke selatan puluhan kilometer.

Bahkan beberapa hari pascagempa, wilayah Kulawi terisolir total. Akses jalan tertutup longsor tak memungkinkan kendaraan darat melaju sampai Kulawi. Listrik padam, sinyal telepon genggam nihil menunjukkan bar yang kosong tanda tak ada transmisi sinyal yang masuk hingga ke Kulawi.

Hari-hari sepekan pascagempa lalu, hanya helikopter satu-satunya yang bisa diandalkan untuk mengantar bantuan hingga ke pelosok Kulawi. Data-data didapatkan, citra dari helikopter kala itu menunjukkan kerusakan rumah dan infrastruktur di Kulawi pun termasuk yang cukup parah.

Bertemu Ibnu, yang tak lagi punya rumah

Memasuki pekan kedua gempa lalu, kami, Tim ACTNews mencoba mengecek jalur darat menuju Kulawi. Kabarnya di hari yang sama kami melaju ke Kulawi, jalur darat mulai bisa ditembus. Titik longsoran yang menimbun jalan sudah mulai dibuka dengan alat berat.

“Sebuah jembatan besar yang ambruk diterjang lumpur likuefaksi sudah dialihkan jalurnya menuju jembatan darurat, ” tutur Rahadiansyah, Koordinator Posko ACT wilayah Sigi.

Hari itu, perjalanan pertama menembus Kulawi yang terisolir, tujuan kami bergerak menuju Desa Salua di Kecamatan Kulawi. Tiga jam adalah waktu tempuh paling cepat dari Posko ACT yang berada di Poros Palu-Sigi. Sejumlah titik longsoran yang licin, amblas menimpa jalan. Akar pohon besar mengelupas jatuh dari sisi lereng yang longsor. Bekas longsoran dibiarkan begitu saja, tanda kalau kalau akses jalan menuju Kulawi ini baru saja dibuka.

Tiga jam jalan berkelok, runtuhan rumah imbas gempa besar Jumat (28/9) lalu berjejeran di kanan kiri jalan. Aspal mengelupas mengangkat sampai lebih dari se-meter, terbayang bagaimana tanah di bawah permukaan aspal pernah bergemuruh besar di hari gempa itu.

Kondisi seperti itu terlihat sampai kami tiba di Desa Salua, termasuk desa paling ujung di Kecamatan Kulawi. Mobil menepi di depan rumah yang ambruk tidak berbentuk. Atapnya jatuh, garasinya ambruk.

Seorang bocah dengan kaus klub bola Barcelona bertopi caping mendekat, ia berdiri di depan runtuhan rumahnya. Matahari Sulawesi Tengah yang terik menyengat khas khatulistiwa tak dipedulikan oleh bocah ini. Topi capingnya yang terlihat kebesaran, sempurna melindungi wajahnya dari panas terik.

“Ini anak saya, namanya Ibnu. Kepala Ibnu masih ada luka, tidak boleh kena panas terus menerus. Ibnu kemarin sempat tertimbun pintu garasi sewaktu gempa. Ibnu sekarang tinggal di tenda di situ, di depan rumah kami yang ambruk,” kata seorang lelaki yang mengenalkan dirinya dengan nama Salam (31), ayah dari Ibnu.

Salam bercerita, belum banyak bantuan yang masuk ke desanya. Lokasinya benar-benar terpencil. Listrik yang masih padam, sinyal telepon genggam yang hilang ditutupi bebukitan tinggi. Belum lagi dengan longsoran tanah yang terjadi di banyak titik sekaligus, menyulitkan siapapun menembus Kulawi dengan jalur darat.

Menurut Salam, beberapa hari pascagempa hanya ada bantuan yang masuk dari helikopter. “Kalau ada heli, anak saya ini si Ibnu selalu teriak minta bantuan. Bantuan-bantuan! Ibnu teriak begitu. Tapi kalau helikopter tidak jadi kirim bantuan ke sini, Ibnu langsung teriak ‘ah telaco!’, istilahnya dia emosi begitu,” tuturnya sembari tertawa kecil, mengisahkan ulah anaknya yang baru berusia lima tahun.

Rumah di sekeliling tenda Ibnu kini rata dengan tanah. Episentrum gempa 7,4 SR Jumat (28/9) boleh jadi sangat jauh dari Desa Salua - Kulawi, tapi dampak gempa di desa ini termasuk parah. Runtuhan rumah, sekolah, masjid, dan tempat ibadah lain hampir rata di desa ini.

“Pertama itu kode lampu dua kali di sini. Saya kira mati memang mau lampu. Tapi ternyata langsung sudah, goyang semua. Keras sekali. Rumah saya ambruk. Ibnu sempat tertimbun runtuhan. Alhamdulillah, kepala Ibnu tidak tertimbun. Ia berteriak 'mama-ayah!',” cerita Salam di depan runtuhan rumahnya.

Dalam gelap selepas azan Magrib itu, Ibnu yang berteriak meminta tolong langsung diselamatkan oleh Salam dibantu sang Nenek. “Alhamdulillah Ibnu cuma luka di pipi dan lututnya,” jelas Salam.

Usai semua guncangan gempa besar mereda, Salam dan keluarganya mengungsi di atas bukit persis di belakang runtuhan rumah mereka. Hujan, gelap, dan rasa takut meneror hebat keluarga Salam.

“Setelah itu semua keluar. Di sini hujan deras waktu gempa. Kami berteduh sementara di atas gunung di bawah pohon. Gelap. Setelah hujan reda kami baru bikin pondok dari terpal dan triplek itu. Tidak tahu kapan kami bisa kembali punya rumah,” ujar Salam pasrah. Ibnu, bocah lima tahun asal pelosok Kulawi itu kini tak lagi punya rumah. Sampai pekan ketiga pascagempa, tenda terpal dan bilik bambu adalah atap terbaik yang bisa dimiliki.

Bukan hanya tentang keluarga Salam atau Ibnu, mengutip data terkini dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), lebih dari 68 ribu rumah rusak berat di Palu,Sigi, dan Donggala. []