DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Padangsidempuan Diguncang Gempa Dangkal 5,5 Skala Richter

Padangsidempuan Diguncang Gempa Dangkal 5,5 Skala Richter

ACTNews, PADANGSIDEMPUAN - Zona merah rawan gempa di sepanjang tepi barat Pulau Sumatera kembali melepaskan energi tektoniknya pagi ini. Melansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jumat (14/7), sekira pukul 08.25 WIB seismograf BMKG mencatat guncangan gempa dengan kekuatan 5,5 skala richter. Guncangan gempa berpusat di darat, berkategori gempa dangkal dengan kedalaman hanya 10 kilometer.

Laman pusat informasi gempa BMKG menuliskan, gempa pagi tadi berpusat hanya 9 kilometer dari Kota Padangsidempuan, Provinsi Sumatera Utara dengan kekuatan guncangan gempa dekat episentrum skala sedang hingga kuat sampai V-VI MMI (Modified Mercalli Intensity).

Meski kedalaman gempa termasuk dangkal, tapi gempa tak berpotensi tsunami. Sebab, pusat gempa berada di daratan. “Gempa tak berpotensi tsunami, gempa dangkal tapi berpusat di bawah daratan Sumatera,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Menyimak potensi gempa besar di sepanjang pantai barat Sumatera, titik pertemuan lempeng Indo Australia dan Lempeng Eurasia berada di dasar laut. Jika gempa besar dan dangkal episentrumnya ada di atas daratan Sumatera, maka kemungkinan pemicu gempa berasal dari patahan atau sesar kompleks yang menjalar persis di bawah daratan Sumatera.

Mencari penjelasan pemicu gempa Padangsidempuan pagi tadi, ACTNews mengutip pernyataan Dr Daryono selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Tsunami BMKG. Menurut Daryono, gempa bumi Padangsidempuan Jumat pagi (14/7) adalah salah satu bentuk pelepasan energi gempa tektonik yang berasal dari kerang dangkal (shallow crustal earthquake).

Daryono menyebut, gempa Padangsidempuan sebesar 5,5 skala richter dengan kedalaman 10 kilometer terjadi karena aktivitas tektonik Zona Sesar Sumatera atau dikenal di bidang kegempaan sebagai Sumatera Fault Zone.

Zona Sesar Sumatera ini melepaskan energinya setelah dibangkitkan oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault) antara lempeng besar Eurasia dan lempeng Indoaustralia di sepanjang Pantai Barat Sumatera.

“Dugaan kuat, sesar aktif yang menjadi pemicu gempabumi Padangsidempuan pagi tadi adalah segmen dari Sesar Angkola. Dari karakteristik catatan gelombang seismik dan mekanisme sumber gempa yang dicatat BMKG, gempa Padangsidempuan ini dipicu aktivitas tektonik, bukan akibat aktivitas vulkanik,” ungkap Daryono dalam keterangan persnya.

Sementara itu, elemen Disaster Emergency Response (DER) Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah berkoordinasi dengan BPBD setempat di Padangsidempuan, simpulan yang didapat dampak gempa tidak membawa kerusakan yang berarti. Hanya gempa memang dirasakan cukup kuat selama sekitar 20 detik oleh masyarakat Kota Padangsidempuan.

“Laporan sementara masyarakat setempat sempat panik dan berhamburan keluar rumah. Atap rumah dikabarkan bergetar keras, barang-barang di dalam rumah dan lampu jalanan bergoyang, tapi belum ada laporan kerusakan infrastruktur. Tim DER ACT terus berkoordinasi dengan BPBD terkait untuk merespons dampak gempa” ungkap Insan Nurrohman selaku Senior Vice President of Humanity Network Department ACT.

Beberapa saat setelah guncangan gempa pertama, BMKG pun mencatat beberapa kali gempa susulan. Insan Nurrohman mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak terpengaruh banyak isu tak valid yang bisa saja beredar untuk memicu kepanikan setelah gempa.

Selain Kota Padangsidempuan, ada beberapa wilayah lain yang juga melaporkan sempat merasakan efek dari guncangan gempa dangkal pagi tadi, yakni Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, hingga ke Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. []

TAGS