DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Pasar Tua Muara, Kisah Pesisir yang Tenggelam

Emergency Response
Pasar Tua Muara, Kisah Pesisir yang Tenggelam

ACTNews, DONGGALA – Rumah-rumah di sepanjang daratan Kota Palu dan Kabupaten Donggala kini telah menjadi puing, tidak terkecuali di pesisirnya. Pascagempa mengguncang, tidak ada lagi bangunan yang disebut rumah bagi masyarakat Pasar Tua Muara, Kecamatan Benawa, Kabupaten Donggala. Lebih dari 30 bangunan di bibir laut itu amblas.

Bagi masyarakat pesisir Donggala, laut adalah sahabat. Sebagai nelayan, tali hidup mereka ditambatkan kepada lautan. Namun, di hari pertama gempa dan tsunami menghantam Donggala (28/9), laut memberikan kisah yang berbeda bagi mereka yang telah hidup puluhan tahun berdampingan.

Rafli (39), salah seorang nelayan yang juga penduduk Pasar Tua Muara, sore itu sebenarnya sudah enggan melaut. Perasaannya kala itu tidak begitu enak.

“Memang hatiku bilang ‘ah tidak usahlah, tidak usah melaut’, tapi apa boleh buat kerja kita kan di sana?” cerita Rafli, Selasa (9/10). Kata batin itu ia kesampingkan. Bersama 13 orang lainnya, Rafli tetap melaut untuk mencari ikan.

Jumat (28/9) lalu, BMKG mengumumkan gempa bermagnitudo 7,4 terjadi di timur laut Donggala dan berpotensi tsunami. Rafli yang ketika itu berada di tengah laut belum mengetahui kabar itu. “Pas di laut juga kita dapat guncangan. Mau telepon keluarga juga tidak bisa sudah, putus jaringan,” lanjutnya. Rafli tidak menyangka guncangan yang ia rasakan di atas kapal adalah gempa, ia sempat mengira kapal terantuk karang.

Tidak lama, Rafli dan nelayan lainnya memutuskan kembali ke pesisir. Nahas, setibanya mendekati daratan, bangunan yang selama ini mereka tinggali sudah tidak tampak. Rafli menyebutkan, rumah-rumah yang awalnya sebagai tempat tinggal lebih dari 20 kepala keluarga itu amblas sedalam 25 meter setelah sebelumnya tersapu gelombang.

Kebingungan seketika melanda Rafli dan nelayan lain. Pikiran akan kabar keluarga langsung memenuhi kepala mereka. Saat itu, adik, bibi, dan kemenakan Rafli sempat tidak diketahui keberadaannya.

Sejalan dengan itu, Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) menyebutkan, per tanggal 11 Oktober, lebih dari 5.000 jiwa dinyatakan hilang dan lebih dari 74 ribu mengungsi akibat gempa Palu-Sigi-Donggala. Rafli, adalah satu dari puluhan ribu pengungsi itu. Kini ia tinggal di Gunung Bale, sebuah desa di Kecamatan Banawa, tidak jauh dari tempat tinggal lamanya.

“Bantuan sejauh ini siapa yang cepat dia yang dapat. Orang kalau tidak aktif jalan (tidak berupaya mencari bantuan) tidak akan dapat,” papar Rafli, menceritakan kondisinya selama mengungsi.

Rafli hanyalah segelintir kisah tentang mereka yang harus melanjutkan hidup pascabencana melanda. Rafli dan masyarakat terdampak bencana Sulawesi Tengah harus diyakinkan, bahwa mereka tidak sendiri. Hingga Jumat (12/10) ini, ACT telah membuka posko kemanusiaan di Palu, Sigi, Donggala Barat, dan Donggala Timur. []

TAGS