DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Pengungsi Rohingya Sambut Ramadan Pertama di Kamp Kutupalong

Let's Help Rohingya
Pengungsi Rohingya Sambut Ramadan Pertama di Kamp Kutupalong

ACTNews, COX’S BAZAR –  Memasuki pertengahan Mei, Kamp Kutupalong tak ubahnya sebuah padang tandus yang disesaki bangunan bambu. Terik matahari dan angin panas yang membawa serta debu mampu membuat mata berpicing. Sekali angin berhembus, bukan hanya debu yang bergerak, namun juga bau tak sedap yang menguap dari toilet umum di area kamp. Lingkungan gersang dan padat ini siap menemani pengungsi Rohingya dalam menyambut Ramadan 1439 Hijriyah.

Ramadan kali ini menjadi Ramadan pertama bagi ratusan ribu warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh sejak Agustus 2017 lalu. Ribuan di antaranya kini menempati kompleks Integrated Community Shelter (ICS) ACT yang berada di Kamp Kutupalong, kamp pengungsian terbesar di Bangladesh. 

Salah satunya adalah Abdurrahim (47). Duduk di atas kursi bambu panjang tak jauh dari rumahnya, ia bercerita banyak tentang kondisi dirinya beserta pengungsi lain saat ini. Ramadan menyapa mereka di lokasi yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

 

“Saya sekarang hanya bergantung kepada Allah saja. Memang sangat sedih kami harus melewati Ramadan dan Idul Fitri nanti di tempat pengungsian. Padahal sebelumnya kami masih bisa menjalankan ibadah Ramadan di kampung halaman,” kata Abdurrahim, dengan tatapan mata kosong seolah pasrah terhadap kondisinya saat ini.

Pernyataan tersebut juga keluar dari beberapa pengungsi Rohingya yang baru bermukim di Kutupalong. Mereka sambut Ramadan tahun ini dengan rasa syukur atas kesempatan hidup yang ada. Namun, terselip pula kegetiran dan kesedihan yang tak mampu mereka tutupi.

Bagaimana tak bersedih, menjalani Ramadan di kamp pengungsian adalah hal baru bagi mereka. Semua serba terbatas dan bergantung pada bantuan yang ada. Hal ini tentu berbeda ketika mereka masih berada di kampung halaman. Walaupun saat di kampung halaman mereka hidup kurang berkecukupan, mereka mampu bertahan hidup dengan usaha sendiri.

 

Pengungsi Rohingya yang menempati Kamp Kutupalong berasal dari latar belakang sosial yang beragam. Beberapa di antara mereka berasal dari keluarga bercukupan dan berpendidikan. Namun tak jarang pula yang berasal dari kaum pekerja. Kini, di kamp tersebut, semuanya merasakan yang sama. Semua bergantung kepada bantuan yang diberikan sejumlah NGO, termasuk ACT dan Pemerintah Bangladesh.          

 

Mengenang Ramadan di kampung halaman

“Assalamualaikum..” sapa Khairul Bashar bin Hasyim (32), salah satu guru mengaji di rumah tahfiz binaan ACT ketika menyambut kunjungan kami. Serentak kami pun menjawab “Waalaikum salam warah matullahi wabaraakatuh.” 

Ia pun sejenak meninggalkan aktivitas mengajarnya. Guru lain menggantikannya untuk meneruskan mengajar anak-anak Rohingya yang siang itu sedang melakukan aktivitas belajar mengajar.

 

“Ramadan tahun ini merupakan Ramadan pertama kami di pengungsian di Bangladesh. Biasanya kalau menjelang Ramadan di desa kami di Myanmar, kami selalu menyambutnya dengan berbagai persiapan. Kami bergotong-royong untuk mengumpulkan beras dan memasaknya. Kami menggelar makan bersama untuk menyambut Ramadan,” terangnya. 

Sama halnya dengan Abdurrahim, Khairul juga nampak sedih, tak menyangka Ramadan saat ini harus dilalui di kamp pengungsian. Ia tak lagi bisa melakukan tradisi mengumpulkan beras untuk makan bersama. Hal ini tidak memungkinkan karena baik dirinya maupun pengungsi yang lain tidak mempunyai uang. Mereka bergantung pada bantuan kemanusiaan yang ada.  

Seperti halnya tradisi muslim di Indonesia, warga Rohingya juga memiliki tradisi mempersiapkan makanan khusus Ramadan di kampung halamannya. Misalnya saja sajian berbuka puasa dan sahur.

 

“Biasanya saat sahur kami makan ikan laut yang terbaik karena kami dekat dengan pantai. Lalu kami juga mengonsumsi buah-buahan. Selain itu, lauk-pauk yang kami masak juga bervariasi setiap harinya. Kadang kami beli daging ayam, sapi, atau kambing. Saat sahur, makanan utama kami lengkapi dengan minuman susu,” kenang Khairul.  

Saat kami berbincang dengan Ustaz Khairul, tak lama seorang ibu bernama Khadijah Begum (50) lewat di hadapan kami. Rumahnya berada tepat di samping masjid ACT. Ia turut menuturkan kenangan Ramadan lalu di kampung halamannya.

Khadijah menghidupi kelima anaknya seorang diri, suaminya meninggal saat masih di Myanmar. Dahulu, keluarganya bisa dibilang keluarga kaum menengah. Ia berkisah bagaimana menyenangkannya Ramadan tahun lalu.   

 

“Sesudah anak laki-laki saya bekerja, ia suka bawa makanan pas sahur dan iftar. Kami sering mendapatkan makanan yang enak saat itu. Namun saat ini, kami tidak bisa apa-apa. Anak saya juga tidak bisa menafkahi keluarga kami. Mereka tak bisa mendapatkan kesempatan untuk menghasilkan uang di kamp ini. Saya juga berpikir bagaimana bisa menjalani Ramadan nanti,” keluh Khadijah.

Budaya islami pengungsi Rohingya memang hampir mirip dengan kultur di Indonesia. Ketika Ramadan, Muslim Rohinga salat Tarawih ke masjid, sehingga masjid menjadi ramai dan hidup.    

Bahkan, sebelum Ramadan pun aktivitas di sepanjang masjid dan madrasah di ICS-ACT selalu riuh setiap harinya dengan kegiatan belajar, mengaji, pengajian, dan aktivitas pendidikan dan keagamaan lainnya.       

 

Khairul berharap, meskipun bulan suci ini harus dijalani di kamp, ia dan pengungsi lainnya bisa terus khusyuk beribadah. “Kami ingin menjalankan semua jenis ibadah di bulan Ramadan ini, seperti membaca Alquran, salat tarawih, qiyamul lail, dan ibadah yang lainnya, dengan khusyuk dan maksimal, ” pungkasnya. []

352

TAGS