DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Penyadaran Peran Wakaf dalam Membangun Peradaban

Penyadaran Peran Wakaf dalam Membangun Peradaban

ACTNews, SEMARANG - Usahawan muslim merupakan komunitas strategis dalam membangun peradaban berbasis wakaf. Namun demikian, wakaf saat ini merupakan pilar ekonomi umat yang  terabaikan dari muslim Indonesia. Hal ini terlihat pada melambatnya laju perekonomian negeri ini. Menurut Imam T. Saptono selaku Presiden Global Wakaf Corporation (GWC), solusi untuk masalah tersebut haruslah sistematik.

“Yakni, kembalikan peran wakaf dengan para usahawan sebagai penggeraknya. Harapannya gerakan ini dapat meluas menjadi gerakan nasional yakni Indonesia berwakaf. Bukan saja memulihkan ekonomi negeri, bahkan membangun peradaban yang lebih berperikemanusiaan," ungkap Imam T. Saptono dalam gelaran kelima Waqf Business Forum (WBF) di Hotel Pandanaran, Semarang (22/11).

Lebih 100 orang dari kalangan usahawan muslim Semarang hadir menyimak paparan narasumber WBF. Imam menegaskan, wakaf dalam konotasi produktif bukan saja ditunaikan, melainkan dikelola dalam bentuk bisnis secara profesional agar produktivitasnya berkesinambungan.  

"Disebut pilar ekonomi, karena dari manajemen wakaf produktif ini, sejumlah krisis kemanusiaan dapat teratasi melalui pemanfaatan hasil keuntungan aset-aset wakaf," ujar Imam. Ia menguatkan pandangannya dengan fakta-fakta di Indonesia, antara lain kondisi Indonesia yang masih mengimpor garam, singkong, ikan, cabe, dan komoditi lainnya.  

"Kita impor komoditi itu semua karena petani garam, petani singkong, nelayan, petani cabe kita tidak mampu berhadapan dengan skema pembiayaan bank," imbuh Imam.

Paparan faktual dan kemuliaan peran wakaf di tangan nazir yang handal memberi perspektif yang segar dan menyemangati. Sejumlah peserta termotivasi untuk terlibat mewakafkan saham atau wakaf hartanya untuk diproduktifkan.

Acara WBF di Semarang  juga dihangatkan dengan pidato inspiratif Presiden Global Islamic Philanthropy Ahyudin dan Direktur Bisnis GWC J.E. Robbyantono sebagai narasumber.

Ahyudin menggugah dengan paparan makro "The Power of Wakaf". Menurutnya, pengelolaan wakaf yang bijak dan inovatif-produktif bakal sanggup mengembalikan kejayaan Indonesia.

"Kita tidak ingin Indonesia terus-menerus berutang, sementara umat Islam dengan kesadarannya tak ragu untuk bederma dan membantu berbagai krisis di Tanah Air maupun dunia. Umat hebat berwakaf, menjadi solusi segenap krisis kemanusiaan," ungkapnya menyemangati.

Sementara itu, Robbyantono mengungkapkan perbandingan diametral wakaf dengan lembaga keuangan non-syariah. "Kita lebih tertarik yang mana, jadi nasabah karena diiming-imingi hadiah mobil mewah dan sebagainya, atau memilih wakaf yang hadiahnya surga dan doa para penerima manfaat dari hasil perputaran wakaf? " ungkap Robby retoris.

Ia lantas melanjutkan betapa keras dalil tentang hukuman bagi mereka yang menumpuk harta. WBF mengenalkan peralihan paradigma dalam memperlakukan harta, sekaligus menunjukkan bagaimana setahap demi setahap, filantropi umat di Indonesia dapat mengatasi ekses ekonomi ribawi yang akut di berbagai sendi kehidupan.

Global Wakaf (GW), yayasan yang berkhidmat menggerakkan wakaf, menggelar WBF di berbagai kota di Indonesia. Forum edukasi wakaf ini menyasar komunitas usahawan muslim Indonesia. WBF diyakini menjadi salah satu solusi mendasar dalam menyelamatkan kehidupan melalui kebangkitan wakaf. []

TAGS