DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Penyintas Bencana Palu Manfaatkan Sisa Puing untuk Bertahan

Emergency Response
Penyintas Bencana Palu Manfaatkan Sisa Puing untuk Bertahan

ACTNews, PALU - Bertahan di tengah keterbatasan pascabencana berarti memanfaatkan apa saja yang ada untuk menyambung hidup. Hal ini lah yang ditunjukkan Ariel, penyintas gempa dan tsunami saat tim Aksi Cepat Tanggap tidak sengaja bertemu dengannya di tepi Pantai Taipa, Palu Utara. 

Di usianya yang masih terbilang belia, yakni 6 tahun, Ariel menepiskan keinginannya untuk bermain. Ia membantu sang Ayah mecari sebilah harapan di tepi pantai itu. Selama berjam-jam, Ariel mengitari kawasan pantai untuk mencari puing-puing berupa besi bekas bangunan yang runtuh, tak peduli sinar matahari begitu menyengat. 

“Nanti puingnya dijual, uangnya bisa untuk beli makanan. Selama di pengungsian kami kekurangan. Kata ayah, kami harus saling bantu untuk memenuhi kebutuhan,” tutur Ariel, Senin (15/10). 

Ariel mengaku ikhlas membantu sang Ayah. Hidup di tenda pengungsian baginya amat sangat berbeda ketika rumah. Ariel yang dulunya suka bermain, sekarang justru harus menahan diri. Berbeda dengan anak lainnya, Ariel lebih suka mencari sisa puing reruntuhan di tepi pantai. 

“Aku sedih tidak punya rumah lagi, tapi aku bisa bantu papaku. Turun dari bukit, ke sini. Sambil bantu aku juga bisa main,” tutur Ariel lugu.

Tak hanya Ariel, seorang pria paruh baya bernama Jon juga melakukan yang serupa. Bedanya Jon bersama istrinya ke Pantai Talise Palu Timur untuk mencari sisa air minum kemasan. Jon mengaku, sejak mengungsi, ia mengalami kekurangan air minum. Sebab, tenda pengungsiannya belum terjamah bantuan. 

Sambil mengunjungi kawasan rumahnya yang telah rata dengan tanah, mencari sisa air minum sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. “Alhamdulillah, masih ada minum, meski bekas dan kotor kemasannya. Sebelum diminum, nanti air minumnya akan dibersihkan dulu,” jelas Jon. 

Jon mengungkapkan, sisa air minum kemasan yang didapat tidak hanya untuk dirinya dan keluarga, tetapi juga untuk pengungsi lain yang berada di satu kawasan dengannya. “Kami di sana saling membantu. Ada tetangga yang kasih mie instan, sebungkus atau dua bungkus sudah bersyukur. Setidaknya masih bisa makan, masih bisa hidup,” ungkapnya. 

Tak bisa dipungkiri, hingga kini masyarakat Palu, Sigi, maupun Donggala masih membutuhkan bantuan. Mulai dari kebutuhan logistik, hunian, hingga dukungan psikosial. Tak lupa doa terbaik sebagai dukungan mereka untuk kuat bertahan di tengah segala keterbatasan. []