DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Perjuangan Nakba Day, 62 Warga Palestina Syahid

Let's Save Palestine
Perjuangan Nakba Day, 62 Warga Palestina Syahid

ACTNews, GAZA – Darah itu masih basah, tapi luka di kaki, tangan, punggung, perut, sampai kepala tak bakal dirasakan. Luka bahkan nyawa bagi warga Palestina adalah sebuah perjuangan. Puncak Nakba Day, Selasa (15/5) kemarin, punya makna begitu dalam bagi puluhan ribu warga Gaza. Protes mereka di tanah perbatasan, sekali lagi dibalas dengan brutal oleh Israel.

Lima titik protes bergemuruh. Mulai dari Kamp Abu Safla di utara Gaza, Kamp Malka, Kamp Al-Buraig, Kamp Khoza’a, dan Kamp Al-Shoka di sepanjang perbatasan timur Gaza. Bagaimana emosi tak melonjak-lonjak, jika di puncak Nakba Day, Tanah Yerusalem secara terang-terangan diakui sebagai ibu kota Israel?

Pengakuan itu ditandai dengan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel ke Yerusalem. Padahal, Yerusalem adalah bagian penting bagi bangsa Palestina. Tanah Yerusalem dengan Kota Suci Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa di dalamnya, juga menjadi kiblat pertama Muslim dunia di kolong langit.

Konflik paling brutal, 62 warga Palestina syahid

Di sejumlah titik perbatasan Israel dan Gaza sebelah timur, konflik paling berdarah berlangsung sepanjang hari. Sampai Rabu (16/5) siang waktu Indonesia, Kementerian Kesehatan Palestina menghitung sedikitnya 62 warga Palestina tewas. Angka kematian paling banyak, disebabkan oleh tembakan peluru tajam yang dibidik oleh ratusan penembak jitu Israel.

Data lain menyebutkan, jumlah korban terluka melonjak mencapai lebih dari 2.800 orang. Angka ini diyakini jauh di bawah jumlah pasti korban luka. Pasalnya, kebrutalan yang dilakukan oleh militer Israel tak lagi mengenal rasa kemanusiaan. Dari ribuan korban terluka, 12 orang di antaranya jurnalis dan 22 lainnya adalah staf medis.

Rekaman gambar sejumlah media lokal Palestina menggambarkan betapa brutal puncak aksi Nakba Day, Selasa (15/5) kemarin. Tampak drone-drone besar melayang dekat sekali dengan kerumunan warga Gaza di perbatasan. Drone itu kemudian melepaskan granat gas air mata. Alat itu seketika meracuni saluran pernapasan, menyiksa mata, dan membuat terbakar tenggorokan.

Saat banyak warga Gaza terhuyung karena pengaruh gas air mata yang dilepas drone, saat itulah para penembak jitu Zionis mengirimkan pelurunya. Peluru menembus fatal ke perut, kaki, bahkan kepala. Nyawa warga Gaza puluhan kali melayang, syahid insya Allah.

Dari video lain juga tergambar, sasaran tembak juru tembak Zionis tidak memandang siapa target mereka. Dalam sebuah video yang ditayangkan di akun Instagram @eye.on.palestine, seorang anak muda Gaza tak bersenjata berjongkok dekat kepulan ban bekas yang sengaja dibakar. Namun, satu detik berikutnya, si anak muda itu terlempar ke belakang, ambruk di atas tanah. Kepalanya ditembus peluru tajam sang juru tembak.

Kebrutalan lain hadir dalam kisah syahidnya bayi Laila Al Ghandour asal Gaza. Isak tangis meledak ketika Laila yang baru berusia 8 bulan, dibopong dalam kondisi balutan kain kafan. Laila, si adik kecil itu dikabarkan wafat akibat menghirup gas air mata dalam jumlah yang fatal di tengah-tengah aksi Nakba Day, di perbatasan Timur Gaza.

Sehari pascatragedi paling brutal, Tanah Gaza masih basah dengan darah. Padahal hari ini, Rabu (15/5), adalah hari pertama Ramadan bagi Muslim di seluruh wilayah Palestina. Mungkin, di banyak rumah-rumah para martir Palestina yang telah syahid, sahur di pertama Ramadan dilewati dengan isak tangis dan kerinduan.

Sementara itu, memulai Ramadan hari Rabu (16/5) ini, ribuan kilometer jauhnya dari Palestina doa terbaik harusnya tak boleh berhenti diucapkan masyarakat Indonesia. Berjalan bersamaan dengan doa yang dikirimkan, ikhtiar terbaik pun sedang diusahakan maksimal.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) tak berhenti menyiapkan berbagai bantuan darurat sepanjang puncak Nakba Day, Selasa (15/5) kemarin. Mulai dari pos-pos medis, hingga kebutuhan air minum dan air bersih yang dipasok melalui water tank. []

325

TAGS