DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Perlu Sadar Mitigasi

Disaster Management Insitute of Indonesia
Perlu Sadar Mitigasi

ACTNews, JAKARTA - Jumat (28/9) petang, Donggala dan Palu diguncang gempa. Bermagnitudo 7,4 SR getaran bumi, hingga menyebabkan gelombang tsunami di sepanjang pesisir Donggala, Palu, hingga Mamuju dan beberapa wilayah sekitarnya. Di Palu, tinggi air laut yang masuk ke daratan di kisaran tinggi lebih dari enam meter. 

Gempa dan tsunami ini menjadi sangat serius, mengingat jumlah korban meninggal menurut data Disaster Management Institute of Indonesia - Aksi Cepat Tanggap (DMII-ACT) per 4 Oktober 2018 menyentuh angka 1.407 orang. Belum lagi ratusan bahkan diduga ribuan masih hilang tertimpa bangunan, tersapu "air laut berdiri" juga tenggelam karena tersedot peristiwa likuifaksi. yang warga lokal menyebut air laut berdiri. Tak hanya itu, lebih dari 161 ribu orang menjadi pengungsi seketika. 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI pada Selasa (2/10) kemarin mengadakan pertemuan dengan awak media. Kepala LIPI Tri Handoko menerangkan, jika masyarakat Indonesia perlu mewaspadai berbagai kondisi yang bisa terjadi di negara ini. Persiapan dalam menghadapi bencana menjadi pekerjaan rumah berat. Penyadaran tentang pentingnya mitigasi bencana sekarang ini sangat mendesak. “Masyarakat harus siap bencana,” jelas Tri

Publikasi tentang temuan ilmiah, Tri menambahkan, kini sangat berharga. "Upaya untuk menyebarluaskannya pun diperlukan guna sebagai salah satu edukasi kebencanaan masyarakat. Terlebih tentang bahaya gempa bumi di negeri ribuan pulau ini," ungkapnya. 

Tak hanya kaya dengan sumber daya alam, di balik itu, pergerakan lempeng besar yang bertemu di bawah tanah bumi Nusantara menjadi ancaman besar. Empat lempeng tektonik bersinggungan di Indonesia, ada lempeng Eurasia, Indo-Australia, Filipina hingga Pasifik.

Indonesia juga menjadi kawasan sabuk vulkanik (volcanic arc) yang bentangannya memanjang dari sebelah barat Sumatera. Kemudian menyusur ke timur melewati Jawa, Nusa Tenggara atau Sunda Kecil hingga Tanah Celebes atau kita kenal Sulawesi. Di sepanjang bentangan ini bertengger gunung-gunung api aktif yang kapan saja bisa menyemburkan isi dan aktivitasnya.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto menegaskan jika sampai saat ini belum ada yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi, termasuk teknologi. Jika ada yang mengatakan kapan gempa, tsunami dan gunung meletus akan terjadi, dapat dipastikan itu merupakan kabar bohong. Eko mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak panik dengan berita bohong seperti itu. “Belum ada satupun teknologi prediksi gempa,” tegas Eko.

Mitigasi negeri rawan gempa 

Terkait gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah, Eko menambahkan jika itu terjadi akibat adanya pergerakan dari sesar atau patahan Palu-Koro. Sesar paling aktif di Tanah Sulawesi ini membentang dari Selatan ke Utara Celebes, membelah kota Palu hingga ke Donggala. “Sesar ini menjadi perhatian khusus bagi peneliti geologi,” kata Eko.

Terkait tsunami di Donggala, Palu dan beberapa daerah sekitarnya, Peneliti Geofisika Kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi Nugroho Dwi Hanato menyebut jika, tsunami itu pun karena Palu-Koro. Patahan terjadi pula di dasar laut dengan pergerakan vertikal memicu gelombang yang warga lokal sebut air laut berdiri. “Bisa juga karena adanya longsoran dasar laut yang menyebabkan air tumpah ke darat,” jelas Nugroho, Selasa (2/10).

Pascabencana yang bertubi-tubi di Indonesia, pengetahuan tentang kebencanaan akan sangat penting keberadaannya. Mitigasi bencana perlu digaungkan ke masyarakat guna mengurangi kerugian akibat kerusakan fisik dan korban. Terlebih mengingat posisi Indonesia yang rawan bencana dan masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya bencana alam. []