DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Pulihkan Sigi, Meski Kampung di Culamega Diterjang Banjir

Emergency Response
Pulihkan Sigi, Meski Kampung di Culamega Diterjang Banjir

ACTNews, SIGI - Hari dimulai oleh puluhan relawan konstruksi Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Desa Sibalaya Utara, Kabupaten Sigi dengan sarapan pagi bersama. Nasi mengepul baru selesai ditanak, lengkap dengan lauk sayur daun kelor, telur rebus, dan sambal jeruk khas Sulawesi Tengah, semua masih panas disajikan sederhana di atas meja.

Masing-masing mengambil porsi besar, mengisi lambung penuh, persiapan energi untuk bekerja seharian. Sudah sepekan berjalan, puluhan relawan konstruksi ACT ini berjibaku sepanjang hari dengan papan, kayu, batu, paku, atap, dan adukan semen di perbukitan Desa Sibalaya Utara.


Lauk lengkap untuk memulai pagi bagi relawan konstruksi ACT di Sibalaya Utara, Kabupaten Sigi

Berlokasi di atas ketinggian itulah, Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter) ACT sedang dikebut prosesnya. Kelak, ketika rampung, Hunian Nyaman Terpadu ACT akan segera difungsikan sebagai rumah pengganti untuk puluhan keluarga pengungsi, korban likuefaksi di Desa Sibalaya Utara.

Sembari menghabiskan lauk di atas piring masing-masing, seorang relawan konstruksi asal Kabupaten Tasikmalaya, memulai perbincangan.

Sarapan pagi sebelum bekerja digunakan tim relawan konstruksi ACT untuk berbincang. Pagi itu yang dibincangkan adalah dampak banjir dan longsor di kampung mereka sendiri

“Bagaimana itu kondisi kampung sekarang? Jalan yang terputus sudah bisa dilewati? Kalau rumah saya Alhamdulillah laporan keluarga, tidak kena banjir. Hanya sawah saja yang kena, habis semua, gagal panen,” cerita Ruhima (50).

Kepada kawan-kawannya yang berasal dari satu kampung, Ruhima menanyakan kondisi kampungnya di Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Beberapa hari terakhir, banjir bandang dan tanah longsor dikabarkan melanda wilayah Culamega.

Ruhima (50), memulai perbincangan tentang kondisi kampungnya setelah dilanda banjir dan longsor di Culamega

Sawah di kampung Culamega habis direndam banjir

Dede Abdulrahman (38), Koordinator Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT menjelaskan, seluruh relawan konstruksi yang bekerja di Sibalaya Utara memang berasal dari Kecamatan Culamega.  “Jumlahnya ada 49 orang relawan. Kami terbangkan semua dari Kabupaten Tasikmalaya. Relawan konstruksi ACT ini sudah beberapa kali bekerja dengan ACT, sempat membangun hunian juga untuk pengungsi di Lombok beberapa bulan sebelum kejadian gempa Palu,” cerita Dede.

Satu pekan proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara. Proses pembangunan kini memasuki tahap pemasangan atap dan dinding

Tidak ada yang menyangka memang, ketika puluhan relawan konstruksi ini meninggalkan kampungnya untuk membantu Palu, bencana banjir bandang melanda Culamega. Seperti Ruhima, sebagian relawan konstruksi ACT mengalami kerugian akibat sawah juga rumahnya terendam.

“Tidak pernah banjir sebelumnya, tahun ini parah. Masih hujan sepanjang hari kata keluarga di kampung,” cerita Solihin (60), relawan konstruksi lain asal Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega.

Panas terik di Sigi, berbanding terbalik dengan curah hujan deras di kampung halaman mereka, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya

Sembari melanjutkan sarapan paginya, Ruhima berkata baru semalam tadi telepon dengan keluarga di kampung. “Katanya, rumah masuk air, banjir sedengkul di dalam rumah pas awal banjir datang beberapa hari lalu. Barang-barang masuk air. Tapi cuma tv doang yang nggak jalan. Semalem telepon keluarga katanya masih hujan,” tutur Ruhima

Satu hal yang cukup menyesakkan Ruhima adalah kondisi sawahnya di Culamega yang terendam. “Sawah habis semua kata keluarga di kampung. Total ada 100 bata (1 bata = 4x4 meter, -red). Baru sebulan saya tanam padinya. Biasanya sekali panen bisa dapat 8 kuintal gabah. Tapi sekarang dimulai lagi dari nol karena gagal panen terendam banjir,” kata Ruhima.

Ani (63) relawan konstruksi asal Culamega mengatakan, sawah dan rumah saudaranya tertimbun longsor

Bernasib sama, Ani (63) relawan konstruksi lain juga bercerita kalau sawahnya ikut tenggelam. “Keluarga di kampung bilang, longsor dan lumpur di Culamega kena rumah saudara saya. Parah katanya rumahnya. Termasuk juga sawah saya tertimbun longsor. Balik kampung nanti mau nggak mau mulai lagi tanam padi, semoga ada modalnya, Insya Allah,” kata Ani.

Musibah tidak ada yang bisa menduga, kini hanya ikhlas dan melanjutkan misi yang difokuskan oleh relawan konstruksi ACT asal Culamega.

“Niat saya sudah menjadi relawan. Di sini juga kena musibah. Sama-sama kena musibah. Apalagi sebelum banjir di Culamega kami semuanya kan sudah di sini. Mau bagaimana, tiba-tiba ada kabar kampung kena musibah juga. Kami Ikhlas Insya Allah,” kata Ruhima.

Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara dibangun di perbukitan tinggi. Kelak pengungsi yang bakal menempati adalah warga Sibalaya Utara korban bencana likuefaksi 

Pagi berlalu seperti biasa di lokasi pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara. Sembari menatap bebukitan tinggi di sebelah barat, Ruhima dan kawan-kawannya menuntaskan sarapan pagi. Kembali melanjutkan tugasnya, berharap Hunian Nyaman Terpadu ACT lekas rampung dan bisa digunakan untuk ratusan jiwa pengungsi di Sibalaya Utara. []