DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Puncak Berdarah Nakba Day di Palestina

Let's Save Palestine
Puncak Berdarah Nakba Day di Palestina

ACTNews, GAZA, Palestina - Tumpahan darah masih segar membasahi Tanah Palestina. Setiap menitnya, jumlah korban semakin bertambah. Senin (14/5) dan Selasa (15/5) menjadi dua hari paling kelam, hari paling berdarah bagi Palestina sejak tahun serangan ke Gaza tahun 2014 lalu. 

Semenjak protes panjang enam pekan berturut-turut dimulai oleh warga Gaza dengan tajuk The Great Return of March, puncak dari aksi tersebut jatuh pada Selasa (15/5), atau yang disebut juga dengan Nakba Day. Sampai Selasa dini hari (15/5) tadi, diperkirakan sedikitnya 60 warga Palestina tewas dan lebih 2.700 lainnya terluka.

Dengan batu dan ketapel, masyarakat Palestina di Gaza berhadapan langsung dengan ribuan tentara Israel, termasuk juga juru tembak dan unit patroli dengan persenjataan lengkap. Peringatan Nakba Day di sepanjang perbatasan sebelah timur Gazaberubah menjadi hari paling berdarah. Ratusan penduduk Palestina menjadi martir menghadapi peluru tajam, gas air mata, dan bom api dari tentara Israel.

Ditotal sejak protes pertama kali dilakukan 30 Maret silam, peluru tajam dan gas air mata Israel telah menewaskan sedikitnya 107 warga Palestina dan lebih dari 12.000 orang luka-luka.

“Pembunuhan terjadi terhadap ratusan orang, ditembaki oleh Israel. Tindakan ini harus dihentikan sekarang juga. Hak untuk hidup harus dihormati. Mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang keterlaluan ini harus dimintai pertanggungjawaban. Komunitas internasional perlu memastikan keadilan bagi para korban, ” tulis UN Human Rights melalui akun Twitternya @UNHumanRights.

Melindungi Baitul Maqdis

Apa alasan yang memicu emosi warga Palestina makin meletup? Pemicunya adalah sebuah perayaan. Perayaan yang terang-terangan merebut hak atas kiblat pertama Muslim sedunia. Media internasional serentak mengabarkan, hari Nakba 14-15 Mei kemarin bertepatan dengan tindakan semena-mena yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel atas Tanah Yerusalem.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kedutaan besar negeri adidaya itu dipindah ke Yerusalem. Pemindahan kedubes tersebut berjarak 70 tahun setelah berdirinya Israel dan sehari sebelum Hari Nakba yang jatuh pada 15 Mei tiap tahunnya. Hati Muslim sedunia dilukai.

Sebelumnya, Kota Yerusalem terbagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Barat dan wilayah Timur. Wilayah Barat dihuni oleh warga Yahudi, adapun wilayah Timur dihuni oleh warga Arab Palestina.

Kini, Tanah Palestina makin hari makin menyusut, menyisakan Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur yang menjadi kampung halaman bangsa Palestina. Tindakan penjajahan oleh Israel sejak tahun 1948 lalu menyebabkan bangsa Palestina terusir dari tanah mereka sendiri.

Hingga saat ini, berdasarkan data dari UNRWA (United Nations Relief And Works Agency) menyebutkan sekitar 5,3 juta bangsa Palestina menjadi pengungsi di berbagai negara, seperti Lebanon, Yordania dan Turki.

ACT di Tengah Duka Palestina

Di antara emosi dan duka mendalam yang dihadapi oleh warga Palestina, dukungan tak surut disampaikan oleh bangsa Indonesia. Melalui amanah yang dititipkan kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT), berbagai bantuan diberikan. Salah satu yang paling masif berupa bantuan 2.000 ton beras yang dikirim lewat Kapal Kemanusiaan Palestina.

Tak sampai di situ, ACT juga hadir di tengah-tengah aksi Al-Awdah March. Andi Noor Faradiba, tim Global Humanity Response ACT memaparkan, Posko Medis ACT dibangun di perbatasan Gaza-Israel, memberikan pelayanan medis bagi warga yang terluka dalam aksi tersebut.

Berjalan beriringan dengan posko medis, ACT juga menyediakan dapur umum untuk Palestina yang mendistribusikan ribuan paket makanan gratis siap santap bagi. Pasokan air minum dan air bersih juga dipasok dari Mobile Water Tank ACT yang dapat memberi minum kepada lebih dari 6.600 orang peserta aksi Al-Awdah.

“Sudah 4.000 paket nasi yang didistribusikan kepada peserta aksi di perbatasan Gaza. Sementara Mobile Water Tank kami bisa melayani sekitar 6.600 orang pada saat aksi Al-Awdah March,” pungkas Faradiba.

Perjuangan belum boleh surut, ACT dan Indonesia akan terus mendukung perjuangan rakyat Palestina hingga kemerdekaan itu terwujud. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa semua penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Insya Allah, Palestina akan merdeka. []

416

TAGS