DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Puncak Musim Dingin, Warga Mongolia Terima Bantuan Batu Bara

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI)
Puncak Musim Dingin, Warga Mongolia Terima Bantuan Batu Bara

ACTNews, OLGII - Tumpukan batu bara memenuhi halaman depan rumah Harashash (28), yang terletak di salah satu desa di kota Olgii, Provinsi Bayan Olgii, Mongolia. Sebelumnya, sebuah mobil pick-up baru saja selesai menurunkan satu bak penuh bongkahan-bongkahan hitam batu bara. Jika ditimbang, batu-batu itu beratnya mencapai 1 ton atau 1000 kilogram.

Di tengah suhu -20° Celsius, Harashash sesegera mungkin memindahkan beberapa kilogram batu bara ke sebuah wadah dan membawanya ke dalam rumah. Ia langsung memenuhi tungku kompor tradisional miliknya dengan batu-batu serupa arang itu. Sesekali ia mengusap-usap kedua telapak tangannya di dekat api kecil yang berasal dari tungku kompor.

“Dingin sekali udara di luar,” ungkap Harashash tersenyum. Meski pintu kayu telah ia tutup rapat-rapat, hawa dingin itu masih terasa. Ia lantas membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh kedua putra balitanya yang tengah tertidur, memastikan mereka tidak kedinginan.

Desember dan Januari memang menjadi puncak musim dingin di Mongolia, negara yang berada di bagian utara Bumi. Pada bulan-bulan tersebut, suhu dingin bisa turun drastis di kisaran -20 hingga -40° Celsius. Di Provinsi Bayan Olgii, yang mana mayoritas penduduknya adalah Muslim, batu bara menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Mitra Aksi Cepat Tanggap yang tinggal di kota Olgii, ibu kota Provinsi Bayan Olgii, menjelaskan, batu bara tidak hanya digunakan di rumah-rumah. Gedung institusi, masjid, sekolah, dan sejumlah bangunan lainnya juga menggunakan batu bara untuk meningkatkan suhu di dalam ruangan.

“Selain untuk memasak, kami juga menggunakan batu bara sebagai sumber penghangat ruangan. Kebutuhan akan batu bara meningkat tajam ketika memasuki bulan Oktober, yaitu saat musim dingin mulai tiba,” ungkap Yertai, mitra ACT di Olgii.

Namun demikian, kondisi ekonomi penduduk di Olgii tidak sebaik kota-kota lainnya. Yertai mengatakan, dengan kondisi finansial yang terbatas, banyak keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan harian, termasuk membeli batu bara untuk memasak maupun dijadikan penghangat ruangan ketika musim dingin. 

“Tak jarang bagi mereka yang tidak mampu membeli batu bara, mereka tidak bisa memasak, apalagi menghangatkan ruangan. Bahkan, ada beberapa keluarga yang tidak memiliki apapun untuk dimakan,” imbuh Yertai.

Melengkapi aksi pendistribusian bantuan musim dingin di Bumi Syam, Aksi Cepat Tanggap juga menyapa masyarakat Muslim yang membutuhkan di Mongolia. Bantuan musim dingin berupa 150 ton batu bara didistribusikan ke beberapa rumah, masjid, dan sekolah yang ada di kota Olgii, Bayan Olgii, pada penghujung Desember lalu. Sebanyak 50 keluarga (300 jiwa) yang membutuhkan, 500 jemaah masjid, dan 360 murid serta yatim piatu menerima bantuan ini.

Sucita P. Ramadinda, staff Global Humanity Response (GHR) - ACT mengatakan, Mongolia menambah daftar negara baru yang menerima bantuan musim dingin ACT tahun ini. “Meski masyarakat Mongolia bukanlah korban konflik, namun keadaan mereka juga cukup memprihatinkan. Oleh karena itu, tahun ini ACT juga mengirimkan bantuan musim dingin ke sana, membantu masyarakat kurang mampu di Bayan Olgii untuk bertahan hidup selama musim dingin,” papar Suci. 

 

Harashash mengaku amat bersyukur mendapatkan bantuan 1 ton batu bara pada musim dingin kali ini. Ibu dua anak tersebut bercerita, ia dan suaminya biasa mengumpulkan kardus untuk dijadikan bahan bakar kompor atau penghangat ruangan. Dengan dua anaknya yang masih balita, suhu ruangan yang hangat amat diperlukan agar anak-anak mereka tidak jatuh sakit.

“Saya dan suami saya hanya lulusan SMA, kami tidak memiliki pekerjaan tetap. Alhamdulillah, kami dapat bantuan 1 ton batu bara. Insya Allah, batu baranya cukup untuk satu bulan. Terima kasih untuk masyarakat Indonesia yang sudah mengirimkan bantuannya ke sini. Terima kasih banyak,” tutur Harashash penuh syukur.

Setiap tahunnya, Aksi Cepat Tanggap senantiasa menyalurkan bantuan musim ke beberapa negara di Timur Tengah (Suriah dan Palestina) maupun Asia (Kashmir dan Mongolia). Bantuan tersebut tidak hanya menyasar warga di negara-negara yang dilanda krisis kemanusiaan, namun juga ke masyarakat pra-sejahtera yang harus bertahan hidup ketika musim dingin tiba. []

529

TAGS