DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Ramadan di Yaman: Dahulu dan Sekarang

Ramadan di Yaman: Dahulu dan Sekarang

Hingga Ramadan 1438 H, eskalasi konflik Yaman telah mendorong hampir 17 juta warganya ke dalam jurang kemiskinan. Tanpa penghasilan, tanpa pangananㅡredup sudah semarak kenduri Ramadan di Yaman.

ACTNews, MA’RIB, Yaman - Berpuasa, berdiskusi agama di masjid, mengaji, bersedekah, dan berzakat. Tak lupa ta’awn, yakni tradisi berbagi makanan yang biasa dilakukan oleh kalangan menengah atas kepada seluruh keluarga dan kerabat. Ramadan di Yaman adalah tentang berbagi kebahagiaan. Itulah yang dikisahkan Akram Alsharief, ketika ia dan keluarganya masih tinggal di kota Sana’a belasan tahun silam.

“Berpuasa di Sana’a itu menyenangkan. Cuacanya bersahabat dan semua orang berbagi. Lima belas tahun lamanya selalu seperti itu,” kisah Akram, yang pernah tinggal di sana sejak 2000 hingga 2015.

Seperti umat muslim di berbagai belahan dunia, muslim di Yaman menyambut Ramadan dengan sukacita. Segala kebutuhan pokok yang akan diperlukan selama Ramadan telah jauh-jauh hari dipersiapkan. Makanan dan minuman seperti kurma, sup, sirup vimto (minuman khas Ramadan), dan susu disuplai sejak bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadan). Mereka lantas menyimpannya untuk dikonsumsi selama Ramadan kelak. Sementara sayur-mayur, buah-buahan, dan daging mereka suplai setiap hari atau minggunya.

 

“Namun itu semua terjadi sebelum perang yang meradang pada 2015,” ungkap Akram yang mulai merindukan suasana Ramadan di Yaman belasan tahun lalu.

Kenduri Ramadan di Yaman meredup sejak krisis kemanusiaan menghantui negara ini tiga tahun silam. Tradisi ta’awn tak lagi mewarnai hari-hari Ramadan di Yaman. Menurut Akram, ta’awn kini hanya mampu dilakukan oleh warga Yaman yang tinggal di negara-negara Peninsula Arab lainnya. Mereka mendistribusikannya kepada fakir dan miskin di Yaman.

Sementara pekerjaan tak lagi dimiliki, uang kian sulit diperoleh. Mayoritas warga Yaman kini tidak memiliki cukup uang untuk menyuplai makanan di bulan Sya’ban dan Ramadan. Mereka hanya membeli kebutuhan primer dengan uang mereka. Sayur-mayur, daging, dan buah tak lagi mampu dibeli. Ditambah lagi dengan adanya blokade ekspor dan impor di wilayah utara Yaman, harga bahan pokok kian melambung.

Sementara para pihak terus berkonflik, masyarakat sipil menjadi korban yang paling merugi. Ratusan terkena wabah penyakit tanpa penanganan medis yang memadai, ribuan orang terlantar dan kehilangan tempat tinggal mereka, dan puluhan ribu mengalami kelaparan karena krisis pangan. Bulan Ramadan di Yaman lebih sering dihabiskan dengan lapar dan keletihan, alih-alih sukacita bersama keluarga.

 

“Bahkan beberapa keluarga miskin tidak berbuka puasa dengan makanan yang ada. Mereka sengaja menyimpannya agar bisa dimakan pada waktu sahur,” tutur Ebtihal, mitra ACT lainnya di Yaman.

Insya Allah, Ramadan kali ini ACT akan menyapa kembali pengungsi dan warga pra-sejahtera di Yaman. Al Sabaeen dan Maeen di provinsi Sana’a serta di Al Rawdha, Al Matar, Al Zeraa, dan Ben Aboad Alhoson di provinsi Ma’rib akan secara simultan disambangi. []

Sumber Foto: ACT, CNN

TAGS