DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Ribuan Khobz Penuhi Panganan Pengungsi Suriah Setiap Hari

Let's Help Syria
Ribuan Khobz Penuhi Panganan Pengungsi Suriah Setiap Hari

ACTNewsSURIAH - Pagi sedang dingin, sekitar 13 derajat Celsius. Kala itu, tampak anak-anak pengungsi Suriah sedang berada luar rumahnya dengan pakaian hangat yang membalut tubuhnya. Mereka bukan sedang di perjalanan menuju sekolah ataupun bermain bersama, melainkan sedang berada di depan spusat distribusi roti ACTdi Idlib, provinsi di sebelah utara Suriah, Sabtu (19/1).

Kerap datang ke lokasi tersebut, anak-anak pengungsi Suriah pun terbiasa dengan ritme pendistribusian. Mereka tak pernah lupa untuk membawa kupon yang telah dibagikan sebelumnya. Meski masih anak-anak, budaya mengantre selalu dipatuhi oleh mereka, demi mendapat dua kantong khobz (roti khas Suriah) untuk satu kupon yang ditukarkan.


Pusat distribusi roti ini beroperasi setiap hari. Biasanya sejak pagi, ribuan helai khobz telah tersusun rapi di dalam gudang, sampai para pengungsi datang untuk mengambilnya. Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) - ACT memaparkan, ACT secara rutin menyediakan 16.800 helai khobz per hari. Roti pipih tersebut didistribusikan ke para pengungsi di Idlib, Killi, Hazano di dalam Suriah, sampai ke Reyhanli di perbatasan Turki dan Suriah. 

“Satu kupon untuk satu keluarga. Jadi, setiap keluarga pengungsi mendapat 14 khobz per hari, itu untuk memenuhi kebutuhan makan siang sekaligus makan malam mereka,” jelas Faradiba.

Sejak awal perang sipil, berbagai persoalan dirasakan jutaan pengungsi Suriah, termasuk anak-anak yang juga terkena dampaknya. Tak jarang dari mereka harus tinggal di tenda pengungsian atau rumah tanpa jendela maupun atap. Apalagi Suriah tengah memasuki musim dingin, dan mereka tak punya alat penopang yang mampu menghalau rasa dinginnya.

Di tengah kemelut menjadi pengungsi perang, sekadar selimut, penghangat ruangan, bahkan baju hangat dan jaket tebal menjadi barang langka yang sulit dipenuhi, tanpa mengandalkan uluran bantuan.

Seperti kejadian fatal yang terjadi dalam sepekan terakhir, sejumlah media internasional mengabarkan tentang belasan anak-anak pengungsi Suriah yang wafat karena suhu dingin yang ekstrem. Badan Dunia untuk Anak-anak mengabarkan, sedikitnya 15 orang anak-anak pengungsi Suriah wafat karena hantaman suhu dingin dan akses kesehatan yang tidak layak di tenda-tenda pengungsian.

Laman Al Jazeera juga menuliskan, suhu dingin ekstrem kini sedang menerjang merata di Suriah juga di negara-negara tempat warga Suriah mengungsi, seperti di Turki, Lebanon, dan Jordan. Awal Januari ini, ribuan pengungsi yang tinggal di Kamp Bar Elias, di Lembah Bekaa, Lebanon mengalami badai salju setebal 20 cm dan angin kencang yang bertiup 55 kilometer per jam.

Di lokasi lain, di sebelah timur laut Jordan di sebuah kamp pengungsi Suriah bernama Rukban, angin kencang musim dingin bertiup lebih dari 70 kilometer per jam. Sementara itu di luar tenda terpal mereka, kalau malam suhu dingin bisa mencapai -10 derajat celsius.

ACT sendiri lewat program Indonesia Humanitarian Center (IHC) telah melakukan banyak upaya dalam menopang kebutuhan hidup pengungsi Suriah sepanjang musim dingin ini. Tak hanya pendistribusian ribuan helai khobz, ACT secara rutin juga memberikan bantuan paket berisi sembako setiap satu bulan sekali. Terlebih di musim dingin, ACT pun turut membagikan paket pakaian hangat untuk ribuan pengungsi anak, baik di dalam Suriah maupun di perbatasan Suriah-Turki. []

TAGS