DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Semangat Bersekolah Hafidz, Bocah Malnutrisi asal Lombok Utara

Pemulihan Pascabencana
Semangat Bersekolah Hafidz, Bocah Malnutrisi asal Lombok Utara

ACTNewsLOMBOK UTARA - Seakan tak ada daya, Hafidz Maulana hanya bisa terkulai lemas. Saat bocah usia tujuh tahun lainnya sudah bisa bersekolah, Hafidz justru tak kuasa bergerak. Bocah kecil itu mengidap malnutrisi. Bobot tubuh Hafidz tidak lebih dari enam kilogram, bobot yang tidak sebanding dengan usianya.

Hafidz adalah anak Lombok kedua yang dikabarkan alami malnutrisi. Menurut cerita orang tuanya, Hafidz telah mengalami gagal tumbuh dan kembang pada usia lima bulan. Sejak saat itu, berat badan Hafidz tidak bertambah secara signifikan. Penyebabnya belum diketahui persis karena pemeriksaan Hafidz terhalang kondisi ekonomi. 

“Kami sudah membawa Hafidz sampai ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP). Dokter waktu itu merujuk ke RS. Denpasar, tapi kami tidak melakukan karena terkendala biaya, ” kata Dewi, ibunda Hafidz.

Kondisi Hafidz semakin memprihatinkan ketika perutnya membesar dan dadanya yang condong ke depan. Pertumbuhan motorik pun ikut terhambat. Akibatnya, tak banyak yang bisa Hafidz lakukan di tengah keterbatasan fisiknya. Padahal kata Dewi, Hafidz ingin juga melakukan aktivitas pendidikan. Pergi ke sekolah seperti anak-anak sebayanya. 

"Hafidz ingin sekali bisa bersekolah, sehingga kami bela-belain memberikan ia tas dan buku, tapi kondisinya masih seperti ini,” ungkap Dewi.

Kini, Hafidz yang tak berdaya dan keluarganya tinggal di rumah sang nenek. Sebab, guncangan gempa 7.0 SR lalu pun telah meruntuhkan rumah mereka. Meski rumah sang nenek kecil, hanya seperti bilik, mereka tak punya pilihan. “Mau bagaimana lagi, mau tidak mau hanya bisa tinggal di sini. Apalagi kondisi anak saya masih kecil-kecil, lebih baik daripada tinggal di tenda,” tutur Dewi.

Tak ingin menghiraukan semangat bersekolah anaknya, Dewi mendaftarkan Hafidz ke musala terdekat untuk belajar mengaji. Setiap hari selepas maghrib, Dewi rutin antarkan Hafidz ke musala. Kata Dewi, sekarang Hafidz sudah bisa mengenal huruf hijaiyah lewat belajar membaca iqra.  

“Saya cari alternatif, biar Hafidz ikut mengaji saja di musala agar bisa membaca Alquran. Jadi, tidak ada waktu yang terbuang percuma, semangat belajar dia pun tidak hilang,” tambahnya. 

Kamis (13/9) kemarin, Tim Medis Aksi Cepat Tanggap menyambangi kediaman Hafidz di Dusun Karang Petak, Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Relawan Medis ACT dr. Mukhtar mengatakan, satu yang bisa mewujudkan harapan Hafidz untuk bisa bersekolah adalah kesembuhan. 

Dengan upaya menyembuhkan Hafidz, tahap awal tim Medis ACT berencana akan melakukan pendampingan secara komprehensif. “Sambil mengawal Hafidz melakukan pemeriksaan, kami juga melakukan pembinaan dengan menopang asupan nutrisinya. Insya Allah dalam waktu dekat kami akan membawa Hafidz ke rumah sakit,” jelas dr. Mukhtar. []