DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Seminggu Berselang, Banjir Parah Masih Merendam Pantura Jateng

Emergency Response
Seminggu Berselang, Banjir Parah Masih Merendam Pantura Jateng

ACTNews, SEMARANG –Laju truk-truk besar itu perlahan melambat, mengerem, dan akhirnya berhenti total. Jalur di depannya, lintas Semarang – Demak tepatnya di Jalur Pantura Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang juga di wilayah Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak masih tergenang banjir. Dua wilayah yang bersebelahan ini sedang menjadi titik sentral dari kemacetan panjang beberapa hari terakhir.

Air banjir luapan sungai ditambah dengan limpahan rob menggenangi badan jalan setinggi hampir semeter. Posisi Kelurahan Trimulyo dan Sayung pun menjadi hilir dari sungai, lokasinya lebih rendah ketimbang lokasi lain. Bentuknya yang menyerupai cekungan makin menambah besar dampak banjir di dua wilayah yang bersebelahan ini.

Sudah lebih dari sepekan kemacetan panjang pun tak bisa dicegah. Macet total terjadi di dua arah sekaligus. Imbasnya, lalu lintas barang dan penumpang dari Semarang menuju Pantura Demak – Pati – Tuban – Gresik sampai Surabaya nyaris lumpuh.

Dari badan jalan, kondisi di tepian pun tak jauh berbeda. Banjir menggenangi ribuan rumah warga di Kelurahan Trimulyo juga di Sayung. Ketinggian banjir bervariasi antara setengah meter sampai 1,5 meter.

“Banjir kali ini tergolong parah. Banjir sudah bertahan lebih dari seminggu tanpa ada tanda-tanda surut. Air tidak bisa surut karena curah hujan masih tinggi ditambah dengan limpahan banjir rob ketika air laut pasang,” papar Giyanto, Koordinator Tim Emergency Response dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Semarang.

Mengutip dari laman Republika, banjir di Desa Sayung sepekan terakhir bahkan termasuk banjir paling parah dengan luasan paling besar. Kepala Desa Sayung Munawir di Demak mengatakan, bukannya tambah surut banjir malah makin meluas.

“Awalnya di hari-hari pertama banjir di Sayung merendam rumah 1.562 keluarga. Namun malah makin bertambah menjadi 1.991 keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 8.005 jiwa,” kata Munawir.

Masih menurut paparan Munawir, banjir di Sayung kali ini bisa dibilang yang paling parah dibandingkan banjir tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya kali ini ketinggian banjir bisa mencapai 1,3 meter di dalam rumah, sementara di luar rumah atau di gang-gang mencapai 1,6 meter. 

Sementara itu di Kelurahan Trimulyo, persis di sebelah Sayung, sampai dengan Senin (19/2) setidaknya tercatat ada 436 rumah terendam banjir. “Sebagian besar warga masih mengungsi di rumah warga yang terendam juga di masjid-masjid. Pasokan makanan masih sangat dibutuhkan,” kata Giyanto.

Dapur Umum ACT untuk korban banjir Trimulyo dan Sayung

Merespons kebutuhan makan ribuan pengungsi, tim Emergency Response yang ACT Cabang Semarang setiap harinya bergerak menuju lokasi terdampak banjir. Satu dapur umum sudah disiapkan sejak akhir pekan kemarin.

“Dapur umum kami dirikan di Desa Trimulyo, Sejak Sabtu (17/2). Sehari disiapkan 2.000 porsi makanan untuk ribuan pengungsi di dua desa sekaligus, Trimulyo dan Sayung,” papar Giyanto.

Sampai dengan Senin (19/2) dapur umum ACT dibantu dengan swadaya warga masih mengepulkan harum nasi dan lauk-lauk. “Kebutuhan bahan pangan mendesak dipenuhi. Mulai dari gula, minyak, beras, dan lauk-lauk padat gizi. Sudah lebih dari seminggu anak-anak, perempuan dan lansia terjebak dalam pengungsian. Rumah mereka masih terendam banjir hampir semeter,” pungkas Giyanto. []

TAGS