DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Senin Penuh Berkah bagi Keluarga Zainubah

Senin Penuh Berkah bagi Keluarga Zainubah

ACTNews, PADANG - Langkah kaki itu terhenti di sebuah gubuk sederhana. Di sana, terlihat seorang ibu tengah berjongkok di sudut luar gubuk, di depan tungku yang hanya terbuat dari lipatan lempengan seng berkarat. Sementara tangannya sibuk mengaduk-aduk sodet kayu di penggorengan, ditemani seorang gadis belia yang membantunya memasak. Sontak saja sepasang ibu dan anak tersebut menoleh ketika Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumatera Barat tiba dan mengucap salam. Lekas-lekas ditinggalnya kegiatan memasak itu oleh sang ibu dan kemudian mempersilakan masuk tim ACT ke dalam rumahnya.

Senin lalu (4/12), Zainubah tidak hanya kedatangan tim ACT, namun juga sepaket besar kebutuhan pangan. Puluhan kilogram sembako diterimanya, mulai dari beras, gula, minyak goreng, susu bubuk, teh celup, kurma, hingga biskuit kaleng. Haru terlukis di wajah perempuan berusia 58 tahun ini, mengetahui hari Seninnya dipenuhi dengan berkah.

Aan Saputra selaku Koordinator Program ACT Sumbar mengatakan, kunjungan Senin silam di kediaman Zainubah merupakan agenda dari program pendistribusian paket pangan bagi warga pra-sejahtera. Sehari-hari, Zainubah bekerja mencabuti rumput di halaman rumah tetangganya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Itupun tidak menentu, tergantung permintaan para tetangganya.

Saat ini, Zainubah tinggal berdua bersama anak semata wayangnya di sebuah garasi mobil milik kerabatnya, di Kelurahan Alai, Kecamatan Padang Utara, Padang.

“Saya aslinya dari daerah Tiga Belas Hulu, Palembang. Setelah kedua orang tua wafat, pas saya remaja, saya merantau ke Padang. Saya lalu menikah dengan seorang duda. Namun tak lama setelah melahirkan anak pertama, suami saya meninggal. Sejak saat itu, saya dan anak hidup berpindah-pindah,” kisah Zainubah.

Setelah berkali-kali berpindah tempat tinggal, akhirnya tiga bulan lalu ia menempati halaman garasi tersebut; sebuah gubuk sederhana yang dibuat dari sisa-sisa potongan kayu. Sebelumnya, ia dan putrinya tinggal di gubuk-gubuk ladang yang tak terpakai warga, namun tidak bertahan lama karena pemiliknya juga membutuhkan.

Kesedihannya adalah melihat putrinya, Rahmawati (17), tak lagi duduk di bangku sekolah. Dengan penghasilan sekitar Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per bulannya, sulit baginya untuk membiayai sekolah putrinya. Terlebih, Rahmawati kini mengalami penyakit bintik-bintik di tubuhnya.

Kondisi Zainubah dan putrinya sempat diulas oleh salah satu media sosial komunitas lokal. Aan Saputra mengungkapkan, dari akun media sosial itulah, ia dan timnya mengetahui kondisi keluarga kecil itu. Timnya lantas bergegas mempersiapkan bantuan pangan untuk selanjutnya diberikan kepada Zainubah dan putrinya.

“Kondisi Zainubah dan keluarganya cukup memprihatinkan. Oleh karenanya, secepat mungkin kami mengunjungi mereka dan menyalurkan bantuan pangan. Selain itu, kami juga memberikan santunan kepada Ibu Zainubah. Semoga bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan ia dan putrinya,” tutur Aan.

Dari dalam bilik rumahnya, Zunaibah tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Paket pangan dan santunan yang ia terima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama beberapa bulan ke depan.

“Alhamdulillah.. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya,” ucapnya, masih tak menyangka berkah melimpah di hari Senin lalu.

Program Bantuan Pangan sendiri rutin diselenggarakan oleh ACT Sumbar setiap bulannya. Satu per satu keluarga pra-sejahtera di berbagai wilayah di Sumatera Barat disambangi. Sepaket demi sepaket berisi kebutuhan pangan harian diberikan, hasil dari kepedulian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sumatera Barat. []

TAGS