DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Seri Manajemen ACT (1): Tanggap Darurat, Modal Dasar Organisasi Kemanusiaan

Seri Manajemen ACT (1): Tanggap Darurat, Modal Dasar Organisasi Kemanusiaan

Ahyudin

Presiden ACT

 

Mengelola krisis kemanusiaan itu ada marhalah atau levelnya. Level pertama, penanganan kedaruratan; level kedua, pemberdayaan; dan ketiga, pendidikan. Urutan ini ada bukan seperti "kelas pada sekolah", di mana level berikutnya lebih baik dari sebelumnya. Ketiga level ini sama-sama diperlukan adanya. Dunia memerlukan semua level itu. Sementara ACT, ketika masuk level berikutnya, tidak meninggalkan level sebelumnya.

Sepuluh tahun pertama ACT lalui dengan menebar maslahat dalam wujud penanganan krisis kemanusiaan terutama pada level bantuan darurat. ACT bekerja keras untuk menjadi lembaga kemanusiaan pertama yang bisa hadir di semua krisis kemanusiaan. Ini membawa dua konsekuensi: ACT meraih popularitas karena tekad itu; namun karena pilihan sikapnya, ACT tidak mungkin menjejakkan "monumen kemanusiaan" yang tangible.

Tak ada jejak fisik yang terlihat, seperti bangunan fasilitas kemanusiaan yang dijejakkan banyak lembaga. Bagaimana mungkin menghadirkan fasilitas fisik, sedangkan ACT mengedepankan penanganan isu kedaruratan. Konsekuensi pilihan ini―penyelamatan nyawa menjadi prioritas―membuat ACT mendedikasikan diri untuk program karitatif.

Sebenarnya, pilihan ini tidak benar-benar "tak berjejak". Ada sejumlah hal yang lebih penting yang "kurang terlihat". Pertama, berkembangnya kerelawanan sosial. Dari puluhan ribu bahkan jutaan penyintas bencana alam dan sosial yang berinteraksi dengan ACT, sebagian besar menjadi relawan. 

Di berbagai krisis kemanusiaan, ACT memperoleh sumber daya relawan dan para penyintas itu melalui serangkaian transformasi personal. Mereka yang sebelumnya merupakan penyandang krisis, perlahan berubah menjadi "manusia bersyukur" setelah menerima pertolongan dari orang-orang yang tak dikenalnya. Mereka menguat jiwa sosialnya dan menjadi pribadi penolong (relawan).  

Kedua, intensitas aksi yang dilibatkan oleh tim program ACT dan relawan kemanusiaan, mengasah leadership mereka. Banyaknya krisis, terutama bencana alam yang kadang simultan di dalam maupun luar negeri dalam momentun yang berdekatan, menjadi wahana edukasi luar biasa. Sehingga, Tim ACT maupun relawan―baik pemula maupun profesional― ikut terbentuk menjadi pribadi yang harus mampu mengambil keputusan cepat. Tidak hanya itu, mereka juga harus mampu memberi arah di lokasi krisis dan mendesain secepatnya pola penanganan krisis sesuai kondisi di lapangan.  

Mereka memang dilatih dan memiliki pengetahuan dasar, tapi tak ada edukasi terbaik selain terjun langsung di lapangan. Kami sadar, krisis kemanusiaan adalah salah satu wujud edukasi terbaik membentuk jiwa kepemimpinan. Berhadapan langsung dengan korban krisis, mereka akan sadar bahwa keselamatan jiwa orang lain ada di bawah tanggung jawabnya. Hal ini juga membuat mereka―tim kemanusiaan maupun relawan―terjaga dari berpikir jahat untuk "politisasi" apalagi "korupsi". Salah satu sebabnya, dengan hadir di kancah krisis di mana "orang normal"  memilih mengungsi, mereka malah hadir seolah "menyetor nyawa" di spot kritis untuk keselamatan orang lain yang tak ada pertalian darah dengannya.

Situasi seperti itu hampir mustahil memicu pengaruh setan untuk mengambil keuntungan sesaat. Mereka yang bisa saja setiap saat akan bersua dengan Tuhannya, niscaya berpikir, “Saya ingin bersua dalam kondisi berbuat baik, husnul khatimah.” Bergiat di jagat kemanusiaan adalah zona yang mengingatkan orang di dalamnya pada kematian, momentum bertemu Sang Pencipta. Jadi, mentalnya dilatih untuk tidak main-main dengan amanah.

Ketiga, berbuat dalam situasi kedaruratan mampu memberi perspektif holistik tentang kehidupan. Akar semua krisis, bukan "Langit", bukan pula "Yang Sakral", tapi manusia di bumi "Yang Profan" dan gagal menahan hawa nafsunya. Bencana apapun―baik alam maupun sosial―bukanlah sebab krisis kemanusiaan, tapi akibat kegagalan manusia mengelola nafsunya.

Kesadaran ini tidak hadir tiba-tiba, tapi buah pengalaman panjang ACT. Di hampir semua jejak bencana, ada alasan tertentu di mana unsur manusia ada di dalamnya. Mungkin itu namanya ketidak-amanahan pemimpin atau perilaku kolektif penyandang amanah. Mungkin juga pengabaian kolektif atas nilai-nilai kehidupan dan penghambaan, pun pembiaran atas itu. Sehingga, orang-orang baik pun menanggung akibatnya. Kondisi "pengabaian nilai" yang tidak segera disadari akan mengundang krisis dan bencana alam maupun sosial selayaknya diterima sebagai "sapaan kasih sayang Langit". Artinya, agar umat manusia yang terpapar bencana  segera bersikap selayaknya sikap yang diambil orang yang insyaf dan memohon keberkahan-Nya.

Keempat, level karitatif. Luasnya ajakan kepedulian menolong sesama menjadikan praktik filantropi dengan segala kreativitasnya ikut marak. Mungkin bukan prestasi sosial ACT sendiri. Namun, kiprah ACT dalam meningkatkan frekuensi ajakan kepedulian dan menyuguhkan banyak kreativitas kampanye kepedulian berkontribusi signifikan terhadap maraknya filantropi publik.

ACT memuat nilai filantropi sosial ini dengan selalu mengedepankan kejelasan program (maslahat dan arah program) dan transparansi perolehan maupun distribusinya. Bukan ACT kalau hanya "gebyah-uyah" mengajak publik berkontribusi. Kontribusi apapun, berbasis program, dan pertanggungjawabannya juga terukur karena menggunakan nomor rekening khusus. Teknologi memudahkan ACT menayangkan live report, baik realisasi program di dalam negeri maupun luar negeri. Transparansi pendayagunaan, sama pentingnya dengan program itu sendiri.

Bagi ACT, hanya jika punya alasan hebat berbuat baik untuk kemanusiaan, berhak mengajak berkontribusi hebat di dalamnya. Kalau tidak, buat apa woro-wiri untuk aksi yang terlalu biasa-biasa saja.

TAGS