DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Siaga Bencana Dimulai dari Lingkungan Sekolah

Disaster Management Insitute of Indonesia
Siaga Bencana Dimulai dari Lingkungan Sekolah

ACTNews, JAKARTA – Hidup di tengah-tengah pusaran potensi bencana, sudah seharusnya materi siaga bencana dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia. Satu hal paling mendasar, siaga bencana bisa dimulai dari lingkungan sekolah, diinisiasi di pendidikan dasar di sekitar lingkungan sekolah. Berangkat dari alasan itulah, Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) – Aksi Cepat Tanggap mengadakan program bertajuk Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Siaga Bencana.

Wahyu Novyan selaku Direktur DMII – ACT mengatakan, program ini dalam rangka memberikan edukasi dasar terhadap siswa akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. “Harapannya peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah didapat ketika terjadi bencana,” ujar Wahyu, di Jakarta, pekan ketiga Juli 2018.

Dimulai dari Ibukota Jakarta, program MPLS sudah bergulir sejak 16 Juli sampai 20 Juli 2018. Penyampaian materi berfokus pada dua materi, yakni tentang bencana gempa bumi dan kebakaran.

“Target peserta dalam MPLS Siaga Bencana 2018 ini, seluruh peserta MPLS tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK di Jabodetabek. Tahap awal, terdiri dari enam sekolah yang berbeda, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini berkisar 2021 orang termasuk siswa-siswi dan civitas akademik.

Pada tahap pertama, terdapat beberapa sekolah yang menjadi sasaran penyampaian edukasi MPLS Siaga Bencana. Di antaranya, Perguruan Muhammadiyah Slipi, SMA Tunas Harapan, SMP Dewi Sartika, SMP dan SMK Purnama, SMAN 23 Jakarta, Perguruan Muhammadiyah Tomang, SD Muhammadiyah 09 Plus, dan SD Bunayya Islamic Lab School.

Menurut beberapa guru dan siswa, sebagian besar peserta belum pernah mendapatkan pelatihan terkait penanganan bencana khususnya gempa bumi dan kebakaran.

“Selama ini mereka hanya berlari dan berteriak ketakutan ketika terjadi bencana. Jadi dengan adanya pelatihan seperti ini dinilai sangat berguna dan informatif,” ujar salah seorang guru yang ikut pelatihan ini.

Menyampaikan cerita tentang gempabumi, para peserta diajak untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai awal terjadinya gempa bumi, dampak apa saja yang dapat ditimbulkan, serta langkah apa yang harus diambil apabila terjadi gempa bumi.

“Selama pelatihan, trainer terus menekankan tiga kata kunci untuk menghadapi gempa bumi, yaitu ‘Drop, Cover, Hold On’, harapannya peserta dapat mengingat dan dapat bergerak spontan ketika terjadi bencana,” ujar Erry, trainer dari DMII – ACT.

Agar peserta lebih mudah memahami, maka penyampaian materi dilanjutkan dengan simulasi terkait gempa bumi. Beberapa peserta ditunjuk untuk maju kedepan memperagakan apa yang sudah di simulasikan oleh trainer. Materi gempa bumi ditutup dengan menyanyikan lagu tentang siap siaga gempa bumi secara bersama-sama dan dipimpin oleh salah satu peserta MPLS.

Masuk ke cerita tentang kebakaran, simulasi dilakukan dengan menggunakan tabung gas elpiji 3 kg. Sambil dipraktekkan, trainer kembali mengingatkan peserta bahwa api dapat terjadi akibat adanya 3 unsur, yaitu oksigen (udara), bahan bakar, dan panas (gesekan).

Selain menggunakan tabung gas elpiji 3 kg, simulasi juga dilakukan dengan menggunakan tong yang sudah di isi bensin. Tong ini kemudian di bakar untuk mempraktekkan bagaimana cara memadamkan api menggunakan APAS (Alat Pemadam Api Sederhana) seperti karung goni yang sudah dibasahi oleh air.

Ada hal menarik ketika pelatihan dilaksanakan di SD Bunayya Islamic Lab School, pada saat simulasi kebakaran dilakukan para siswa sama sekali tidak terlihat ketakutan. “Justru mereka langsung berteriak antusias dan berinisiatif membentuk barisan untuk mencoba memperagakan apa yang sudah diajarkan oleh trainer,” kisah Erry.

Melihat antusiasme peserta selama pelatihan berlangsung, beberapa guru yang ditemui ACTNews, beranggapan bahwa, pelatihan seperti ini memang seharusnya disampaikan kepada seluruh kalangan.

“Memang pada dasarnya, tidak hanya orang dewasa melainkan anak-anak sekolah juga sepatutnya mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” tukas Erry.

Karena bencana dapat terjadi kapanpun, dimanapun, dan terhadap siapapun jadi mulailah menjadi #alifesaver. Bukan hanya menunggu bantuan atau bahkan menjadi penonton. []

TAGS