DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Solidaritas Masyarakat Semarang Bela Uighur

ACT Jawa Tengah
Solidaritas Masyarakat Semarang Bela Uighur

ACTNews, SEMARANG – Ratusan orang yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Semarang menggelar aksi damai pada Jumat (28/12). Aksi damai dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat ini di inisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah (ACT Jateng) dengan memusatkan massa di depan kantor Gubernur Provinsi Jawa Tengah.

Aksi ini adalah bagian dari ikhtiar terbaik untuk membangun kepedulian masyarakat Semarang, agar publik turut prihatin dengan etnis Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Etnis uighur telah bertahun-tahun mengalami penindasan serta diskriminasi.

Lagu Indonesia Raya berkumandang di sepanjang Jalan Pahlawan kota Semarang, pertanda aksi damai, yang menghadirkan setidaknya 500 orang, resmi dimulai. “Kita memang tidak bisa datang menemui mereka, kita tidak bisa menjabat tangan saudara seiman di Uighur, namun yakinlah saudara, insya Allah doa kita semua tembus sampai langit! Doa kita di sini akan menjadi energi terhebat bagai saudara teraniaya!” pekik Dimas Anafadli, sebagai perwakilan tokoh agama dalam aksi damai tersebut.

 

Ia kembali menambahkan, “Masalah Uighur adalah masalah kemanusiaan, kebebasan beragama mereka dirampas, akidah mereka direnggut! Bukankah Hak Asasi Uighur sudah dilanggar? Maka sudah sepantasnya pemerintah dan masyarakat dunia menindak tegas para pelakunya,” imbuh Dimas.

Merespon isu kemanusiaan di Uighur, Aksi Cepat Tanggap telah mengirimkan tim untuk meninjau langsung pengungsi Uighur di berbagai negara, “Alhamdulillah, kami telah mengirimkan tim kemanusiaan ke  Turki, Kazakhstan, Uzbekistan dan Kirgistan untuk mendalami sejauh mana nasib etnis Uighur yang berhasil mengungsi,” ungkap Giyanto selaku Kepala Program ACT Jateng.

Menurut laporan tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I - ACT, sebagian masyarakat Uighur yang mengungsi di Turki adalah anak-anak. Umumnya mereka yatim atau anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka. “Ada yang tidak tahu keberadaan bapak-ibunya, ada pula yang orang tua mereka masih di Cina.”

Lanjutnya, “Jadi, para orang tua Uighur mengantar anak-anaknya ke Turki, namun sekembalinya orang tua anak-anak itu ke Cina, paspor mereka dicabut oleh pemerintah bahkan ada yang harus masuk kamp konsentrasi,” terang Giyanto membenarkan keberadaan kamp konsentrasi di Cina.

 

Di hadapan massa, Giyanto meminta doa untuk tim SOS untuk Uighur I - ACT agar dilancarkan dan diberi keselamatan dalam menjalankan misi kemanusiaan. “Kita harus percaya, barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah kita telah memelihara kehidupan manusia semuanya, karena nyawa tidak terbeli banyak maupun sedikit mereka harus dijaga,” pungkasnya.

Setelah menyanyikan lagu kebangsaan disusul dengan tausiyah, peserta aksi melakukan salat gaib berjamaah mendoakan korban bencana tsunami Selat Sunda. Tercatat setidaknya 50 perwakilan dari lembaga kemanusiaan, forum zakat, ormas, dan majlis taklim se-kota Semarang dalam aksi solidaritas tersebut. []

TAGS