DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Status Gunung Agung Masih Siaga, ACT Siapkan Pasokan Pangan untuk Pengungsi

Status Gunung Agung Masih Siaga, ACT Siapkan Pasokan Pangan untuk Pengungsi

ACTNews, KARANGASEM - Beberapa jam pascaerupsi, ribuan pengungsi memilih untuk kembali turun, meninggalkan zona radius berbahaya di bawah 7,5 kilometer dari puncak, mengisi posko-posko pengungsian. Malam tadi, Selasa (21/11), kepanikan sempat terjadi sampai berjam-jam setelah Gunung Agung dinyatakan erupsi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan, Selasa (21/11) sekira pukul 17.05 letusan freatik muncul dari puncak kawah Gunung Agung.

Letusan freatik ditandai dengan kepulan asap kebal yang berisi material vulkanik berupa debu dan kerikil. Selasa malam kemarin, letusan Gunung Agung membubung sampai setinggi 700 meter di atas mulut kawah Gunung Agung.

Seketika informasi tentang erupsi meluas, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – ACT  wilayah Bali melaporkan, aktivitas eksodus ribuan pengungsi berlangsung sampai lewat tengah malam. Nyoman Arif, salah satu punggawa MRI Bali berkisah, warga dari zona radius berbahaya 6 – 7,5 kilometer dari kawah seketika lari mendengar informasi juga penglihatan langsung adanya kepulan asap tebal ke luar dari mulut kawah.

“Beberapa warga memang sempat kembali ke rumah masing-masing mengingat aktivitas Gunung Agung sempat menurun beberapa hari ke belakang. Tetapi, ketika erupsi kemarin terjadi, semua kembali mengungsi menuju posko pengungsian yang tersebar di beberapa titik,” kata Nyoman Arif.

Berdasarkan data yang dilansir dari Bidang Humas Satgas Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung, jumlah pengungsi Gunung Agung sampai Selasa (21/11) berjumlah 29.245 jiwa. Pengungsi lebih dari 29 ribu jiwa itu tersebar di 9 lokasi yang berbeda, meliputi Buleleng, Klungkung, Karangasem, Bangli, Tabanan, Denpasar, Gianyar, Badung, dan Jembrana.

ACT siapkan pasokan pangan

Erupsi Selasa kemarin membuat jumlah pengungsi menjadi makin membeludak. Kebutuhan pangan pun mendesak untuk dipenuhi. Berkoordinasi dengan posko induk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Ampo, Tim MRI Bali menyisir beberapa posko besar untuk melakukan pendataan.

“Sejak Selasa malam (21/11), Tim MRI Bali mendatangi posko Gor Klungkung, Posko Menanga, Posko Pertanian, Posko Seraya, dan Posko Abang. Kebutuhan logistik makanan masih sangat dibutuhkan. Khususnya makanan siap saji,” kata Nyoman.

Rabu (22/11) sehari setelah erupsi freatik Gunung Agung, tim MRI Bali sejak pagi bergegas menuju ke posko-posko yang telah ditentukan sebelumnya. Pemilihan posko pengungsian prioritas dilihat dari posko yang menampung pengungsi dari Kawasan Rawan Bencana III, antara radius 6 - 7,5 kilometer.

“Lima orang personel MRI Bali yang bertugas menggunakan 1 mobil dan 1 motor trail. Motor trail digunakan untuk menjangkau lokasi di Kawasan Rawan Bencana III, di radius sekira 6 - 7,5 kilometer,” ujar Kusmayadi, Koordinator Tim Emergency Response MRI – ACT untuk aksi Gunung Agung.

Tim MRI dan ACT membawa logistik kebutuhan pokok untuk Desa Seraya Barat di Kecamatan Seraya Barat, dan Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.  []

TAGS