DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Tahun Ini, Lebaran di Yaman Tetap Tanpa Kemeriahan

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI)
Tahun Ini, Lebaran di Yaman Tetap Tanpa Kemeriahan

ACTNews, SANA'A – Menunggu ketidakpastian, menunggu dalam kekalutan, menunggu kapan konflik akan berakhir. Sekali lagi, hari lebaran Juni 2018 berarti lebaran ketiga di Yaman tanpa ada kemeriahan. Sudah sejak tanggal 22 bulan Maret 2015 silam, perang meletus di Yaman.

Tiga tahun lebih berlangsung, perang melumpuhkan kehidupan di kota-kota besar di Yaman. Terlebih di tiga kota terpenting; Aden, Hodeidah, dan Sana’a.

Mobil berkarat bergelimpangan di jalan utama kota, runtuhan bangunan menjadi pertanda kota-kota itu tak pernah aman. Si ibu dan si bayi atau si balita, bertahan hidup hanya dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan ke Yaman.  

Tak peduli siapa yang berkonflik, siapa yang menyerang dan diserang, ketika krisis kemanusiaan di Yaman bermula dan makin membuat kocar-kacir sendi kehidupan, warga sipil adalah korbannya.

Lebaran tanpa kemeriahan di Yaman

Menjelang hari Lebaran lalu, mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berbasis di Kota Sana’a menyisipkan kabar dan gambar-gambar kondisi terkini Sana’a. Isi kabarnya tak ada yang membahagiakan. Pada dasarnya memang hanya ada kabar dan gambar tentang kemurungan.

Tentang anak-anak Sana’a yang terbaring di sebuah rumah penampungan sementara di Sana’a, mereka habis melaju jauh dari Kota Pelabuhan Hodeidah, melaju untuk mengungsi. Tentang seorang ibu bercadar hitam yang menggendong bayinya dalam kepayahan. Si ibu pun baru habis melaju jauh mengungsi dari Hodeidah menuju Sana’a.

Dalam beberapa pekan terakhir, terhitung sejak awal Juni lalu, serangan demi serangan udara dilaporkan membombardir Kota Hodeidah dari semua sisinya. Pelabuhan diblokade, bandara ditutup. Hodeidah menjadi kota tanpa suplai barang bantuan.

Hingga lebaran, serangan tak juga berakhir. Imbasnya, arus pengungsi berjalan masif dari Hodeidah menuju ke Kota Sana’a, tempat mitra ACT bermukim.

“Kami mengutip data dari United Nations, di Hodeidah sedikitnya ada 1,1 juta warga sipil terjebak di tengah kota. Sangat membutuhkan bantuan pangan,” ujar Khaled, mitra ACT di Sana’a.  

Namun, beberapa hari menjelang Lebaran kemarin, sekelumit kabar bahagia datang dari Kota Sana’a. Masih dengan mitra ACT yang sama, gambar yang dikirimkan bercerita tentang kebahagiaan. Meski bahagia yang tergambar tak bisa dibilang meriah.

“Jelang Lebaran kemarin, kami belikan hadiah untuk lebih dari 500 anak-anak Yaman di kota Sana’a. Hadiah itu amanah langsung dari masyarakat Indonesia. Kami belikan baju lebaran baru untuk mereka, anak-anak pengungsi di Sana’a. Alhamdulillah,” tulis Khaled dalam pesannya. Pesan itu pun melampirkan gambar-gambar senyum bocah-bocah Yaman, senyum yang sederhana.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) ACT menjelaskan, hadiah Lebaran untuk anak-anak Yaman merupakan kolaborasi kemanusiaan antara ACT dan Launchgood, sebuah lembaga urun dana asal Amerika Serikat, yang berfokus pada komunitas Muslim dunia.

“Beberapa hari usai Lebaran, kami mendapat kiriman gambar dari Sana’a. Gambar anak-anak pengungsi asal daerah Aman Al-Asima di Sana’a. Ratusan anak-anak mendapat hadiah yang sama, baju baru yang dipakai mereka untuk berlebaran. Alhamdulillah,” pungkas Faradiba. []

TAGS