DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Tembus Bungker Bawah Tanah, Bantuan Untuk Ghouta Terus Berlanjut

Let's Help Syria
Tembus Bungker Bawah Tanah, Bantuan Untuk Ghouta Terus Berlanjut

ACTNews, GHOUTA - Gelap, lembap, pekat, tak ada cahaya matahari yang menembus sampai ke dalam bungker bawah tanah. Hari-hari terakhir di Ghouta Timur, semua yang hidup bersembunyi di kolong tanah, menetap di dalam bungker-bungker. Kalau nekat memaksa tetap di luar bungker, “hujan” bom barel dan rudal bisa menerjang kapanpun. 

Di dalam bungker, dingin dan lapar menjadi tantangan terberat. Kalau tak ada pasokan makanan, puluhan sampai ratusan ribu keluarga di dalam bungker, terpaksa tak makan apapun.

Tapi ikhtiar itu terus dilakukan. Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama dengan mitra lokal di dalam Ghouta Timur terus bergerak setiap hari tanpa henti untuk memastikan dapur umum di Ghouta Timur selalu siap memasok makanan.

Lewat sambungan telepon dengan Tim SOS Suriah ACT ke XIV yang berada di sepanjang perbatasan, mitra lokal ACT mengabarkan, dapur umum dijalankan di bawah tanah, dapur memasok makanan siap saji. “Alhamdulillah makanan yang disiapkan di bawah tanah di Ghouta Timur setiap hari berhasil kami distribusikan. Makanan hangat berupa makanan khas Ghouta, seperti sup lentil, nasi biryani dan roti khobz,” ujar Ahmed (nama disamarkan), mitra ACT mengontak langsung dari Ghouta Timur.

Ahmed menceritakan, mengolah bahan makanan menjadi makanan siap saji di Ghouta Timur adalah perjuangan hidup dan mati. Dari urusan membeli bahan pangan, sampai mendistribusikan bahan pangan hingga ke dalam Ghouta, dilakukan dengan bersembunyi, mengendap, bahkan menggunakan terowongan bawah tanah. 

“Kami hanya bisa bergerak ketika suara dentuman bom di atas tanah tak lagi terdengar.”

Setiap hari, tim relawan Dapur Umum ACT di Ghouta Timur bahu membahu memotong kayu bakar. Kemudian memasak dan membagikan makanan langsung ke dalam bungker bawah tanah.

“Saya sangat berterima kasih atas pemberian makanan ini, Ya Rabb semoga kebaikan anda dibalas oleh Allah dengan sebaik-baiknya kebaikan, terima kasih Ya Rabb,” ungkap Khalid (nama disamarkan), satu dari ribuan keluarga yang merasakan hangatnya makanan dari ACT, dari Bangsa Indonesia.

Khalid, juga ratusan ribu warga Ghouta Timur lainnya, sudah sejak 18 Februari lalu mengungsi di bawah tanah, di balik runtuhan rumahnya. Hari demi hari beberapa pekan ke belakang, menjadi horor paling nyata bagi warga Ghouta Timur. Serangan rudal udara dari rezim menyasar ke semua arah. Tak peduli dengan nasib ratusan ribu sipil yang terjebak di dalam Ghouta Timur.

Melansir Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) hingga saat ini, lebih dari 700 nyawa tak berdosa, menjadi korban dari keganasan serangan di atas Ghouta Timur, salah satu tanah terbaik di Bumi Syam.

Hingga laporan ini diturunkan, sudah hampir 10.000 paket bantuan pangan telah terdistribusikan oleh ACT di dalam Ghouta Timur. Paket pangan yang disiapkan berupa nasi biryani, sup lentil, dan roti.

“Dengan menggunakan bahan pangan yang paling mudah didapatkan, dapur umum harus bisa kami jalankan setiap hari, demi memasok ribuan keluarga di dalam bungker,” cerita Ahmed.

Ahmed melaporkan langsung dari Ghouta, paket-paket pangan siap saji yang sudah disiapkan didistribusikan ke titik yang paling memungkinkan untuk dijangkau. “Kami bawa paket pangan dari masyarakat Indonesia ini ke Saqba, Hamuria, Irbin, Jesreen, Harasta, sampai Kafr Batna di Ghouta.” 

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT mengatakan, bantuan kemanusiaan dari masyarakat indonesia telah menjangkau ribuan pengungsi di ghouta timur. “Hanya saja, akses jalan menuju lokasi pendistribusian menjadi kendala tersendiri. Hanya melewati bungker dan terowongan. Kalau ledakan dari rudal udara itu berhenti, baru tim relawan ACT di Ghouta berani mengirimkan bantuan di menyusuri runtuhan bangunan. Keamanan tim menjadi taruhan tersendiri bagi tim ketika henda manunaikan amanah,” kata Faradiba.

Belum lagi dengan kebijakan "Humanitarian Pause" atau gencatan senjata luma jam setiap harinya yang ditetapkan oleh rezim dan sekutunya sama sekali tak menjamin keselamatan para pekerja sosial dan warga sipil. “Selalu ada check point yang memakan waktu dan tidak ada jaminan bahwa rezim dan sekutunya akan menjaga janji gencatan senjata itu,” pungkas Ahmed. []

TAGS