DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Tentang Teror yang Memicu Kelaparan Akut di Borno Nigeria

Tentang Teror yang Memicu Kelaparan Akut di Borno Nigeria

ACTNews, BORNO, Nigeria - Menjelang Subuh di Indonesia, terkadang sebagian yang terlelap dikejutkan dengan gerimis atau hujan. Seperti hujan pagi tadi, Rabu (23/3) yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya. Meski suara hujan sedikit mengagetkan, setidaknya hujan yang mengejutkan malah membuat langit pagi jadi lebih teduh dan sejuk, tidak ada yang perlu ditakuti.

Tapi, di waktu subuh yang sama, nun jauh di Tengah Benua Afrika, di negeri besar bernama Nigeria, waktu subuh bukan dikejutkan oleh hujan.

Pagi di Nigeria, tepatnya di Negara Bagian Borno, bagian sebelah Timur Laut (North East) Nigeria, di kamp pengungsian Maiduguri sebuah bom meledak. Meledak dan membunuh di waktu Subuh. Bukan bom pertama, sudah berkali-kali teror serupa merongrong hampir di setiap petak wilayah Negara Bagian Borno.

Halaman utama Aljazeera Rabu (23/3) mengabarkan tentang teror bom mematikan yang membunuh sedikitnya 8 orang di kamp pengungsian Maiduguri. “Ada empat ledakan besar di dalam Kamp Muna, Maiduguri. Pengebom bunuh diri menyebar di beberapa lokasi hampir bersamaan, sekira pukul 4.30 pagi, waktu Borno,” kata Tijjani Lumani, seorang koordinator kamp, mengutip dari laman AFP dan Aljazeera.

Bom bunuh diri di Kamp Muna ini pun kemudian memicu kebakaran hebat yang merembet ke tenda-tenda pengungsian lainnya. Kamp Muna, adalah satu dari sekian banyak kamp yang berada di tepian jalan lintas Kota Maiduguri, Borno.

Kamp ini adalah tempat tinggal darurat menampung puluhan ribu jiwa warga Muslim Borno, Nigeria. Puluhan ribu warga di sebelah Utara Borno lari dari kekejaman teror kelompok agresif; Boko Haram. Bahkan teror ledakan bom yang mengejutkan waktu subuh di Kamp Muna ini pun diduga kuat dilakukan oleh orang-orang dari kelompok Boko Haram.

Di dalam kamp, puluhan ribu berhimpit di tenda-tenda kumuh, di atas tanah gersang. Mereka lari dari desa-desa di pelosok Borno, mencari perlindungan yang mereka temukan di dalam kamp, gerbang kamp dijaga ketat oleh militer negara.

Namun, di kamp pun kondisinya jauh dari kata layak, sanitasi dan air bersih buruk sekali. Kabar paling kritis, puluhan ribu jiwa warga Borno di sejumlah titik kamp berada pada level malnutrisi akut.

Teror berujung darurat kelaparan

Teror dan krisis kelaparan, dua hal inilah yang sedang membuat lumpuh Nigeria bagian Utara, wilayah di mana mayoritas Muslim Nigeria bermukim. “Semua orang di Maiduguri punya kisah (pengalaman) horornya sendiri berada di bawah tangan Boko Haram,” kata seorang perempuan paruh baya asal Maiduguri kepada theguardian.

Nigeria, negeri dengan 184 juta jiwa populasi padahal punya sebutan sebagai “Giant of Africa” jika dilihat dari besarnya populasi dan pertumbuhan ekonomi negara ini. Namun teror dari ekstremis Boko Haram di bagian utara negeri sudah membuat kalut itu bertahan dan mengakar, hingga akhirnya krisis kelaparan pun “meledak” di negara bagian Borno.

Bom bunuh diri, serangan brutal ke desa-desa miskin, dan kini krisis kelaparan yang membuncah menjadi rentetan masalah yang makin memperburuk situasi. Dari Borno ke Ibukota Nigeria - Abuja terpisah jarak lebih dari 800 kilometer, tapi seperti ada sekat besar yang memisahkan Borno dan Abuja si Ibukota.

Wilayah bagian Utara Nigeria termasuk Borno sudah sekian dekade terakhir terjebak dalam kemiskinan, tak ada pembangunan, didominasi oleh industri agrikultur dan perkebunan. Hingga akhirnya, tahun 2009 kelompok Boko Haram makin mengacaukan situasi. Pemerintah Nigeria mengatakan dalam keterangan persnya, Boko Haram sudah membuat 2 juta warga Borno melarikan diri dari rumah dan mengungsi di tenda-tenda gersang tanpa pekerjaan dan tanpa makanan.

“Orang-orang menangis, di Maiduguri banyak orang menangis. Mereka datang dari desa menuju kamp Mauduguri, ketika mereka datang, mereka tidak punya apapun, kecuali haus dan lapar,” kata seorang perempuan Muslim asal Borno di sebuah kamp di Maiduguri, seperti dikutip dari theguardian. 

Awal Maret 2017 kemarin, PBB merilis kabar tentang seratus ribu lebih anak-anak di bawah umur lima tahun sekarat karena malnutrisi akut. Jika dunia telat bergerak kirimkan pangan secepat mungkin sampai ke Nigeria bagian utara, 20% di antara seratusan ribu anak-anak itu tidak akan bertahan lagi dan wafat karena lapar.

Perkiraan sejumlah lembaga kemanusiaan dunia mengatakan setidaknya ada 450.000 jiwa anak-anak di wilayah Utara Nigeria terdampak malnutrisi parah.

Ketika kondisi keamanan di bagian utara Nigeria tak ada yang bisa menjamin, jutaan jiwa terpapar kelaparan, tertahan dalam tenda-tenda pengungsian tak layak, bahkan masih ada ancaman serangan bom bunuh diri di dalam kamp, maka pilihan bertahan untuk tetap hidup dengan rasa lapar yang membelit lebih masuk akal dibanding berpikir tentang rekonstruksi dan perdamaian. []

Sumber gambar: theguardian, dw.com

TAGS