DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Untuk Para Penjaga Al-Aqsa, 2000 Paket Makanan di Gerbang Al-Silsila dan Hutta

Let's Save Palestine
Untuk Para Penjaga Al-Aqsa, 2000 Paket Makanan di Gerbang Al-Silsila dan Hutta

ACTNews, YERUSALEM - Lorong-lorong berdinding klasik menuju ke dalam kota tua Al-Aqsa mungkin bakal jadi saksi, bahwa di lorong berwarna dasar kuning marmer itu pernah ada kebaikan yang tak pernah surut. Kebaikan yang datangnya ribuan kilometer dari gerbang-gerbang Al-Aqsa: Indonesia 

Untuk Al-Aqsa, Bangsa Indonesia punya cerita heroik di sepanjang lorong-lorong klasik itu. Cerita heroik dari Indonesia yang meski jaraknya terpisah jauh sekali, tapi doa dan kebaikannya selalu ada menemani perjuangan Bangsa Palestina menjaga Al-Aqsa.

Sudah hampir dua pekan berjalan, kebaikan dari bangsa Indonesia berlanjut setiap hari. Sejak pagi selalu ada ribuan paket makanan yang siap disajikan gratis dengan lauk lengkap dan bergizi untuk ribuan jemaah dan penjaga Al-Aqsa. Disiapkan sejak pagi buta di dapur dekat dengan kompleksAal-Aqsa, ribuan paket makanan itu bakal menjadi santap siang yang dibagikan di lorong-lorong klasik Al-Aqsa.

Dari satu ke pintu, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Al-Aqsa selalu berpindah lokasi distribusi. “Demi alasan keamanan relawan dan demi meratanya distribusi makanan dari Indonesia untuk jamaah al-Aqsa,” begitu kata Abu Ali pimpinan tim relawan ACT di al-Aqsa.

Meski ketegangan di al-Aqsa sudah mereda, tapi uluran tangan dari Indonesia belum berhenti. Makin hari, jemaah yang datang ke Al-Aqsa makin bertambah banyak. Makin hari, para Murabiteen atau para penjaga al-Aqsa pun masih harus tetap bersitegang dan beradu argumen dengan para polisi Israel.

Ya, meski memang segala atribut pengawasan seperti pintu metal detector dan kamera CCTV sudah dilepas dari dalam Al-Aqsa, tapi ribuan Polisi Israel dengan senjata laras panjang dan tatapan sinisnya tetap berkeliling di sekitar lorong Al-Aqsa. Bahkan terkadang berlaku kasar kepada warga Palestina yang menurut mereka mencurigakan.

Masih teringat beberapa hari lalu, satu dari belasan relawan ACT di Al-Aqsa sempat ditangkap dan diinterogasi berjam-jam. Semua hanya karena ada bendera Indonesia yang terpasang di dinding ketika proses distribusi makanan di salah satu pintu gerbang Al-Aqsa.

Bendera Indonesia di dinding itu memang sengaja dipasang, menjadi tanda bahwa ada kebaikan bangsa Indonesia yang sedang dibagikan gratis dalam bentuk makanan. Tapi Polisi Israel tetap tak peduli dan menganggap tindakan membagikan makanan untuk penjaga Al-Aqsa itu adalah tindakan yang dilarang.

2000 paket makanan dari Indonesia di gerbang Al-Silsila dan Hutta

Berpindah-pindah dan merotasi tim relawan yang bertugas di gerbang Al-Aqsa, begitu prinsip yang dipakai Abu Ali dalam melakukan distribusi makanan bantuan dari bangsa Indonesia untuk para jemaah Al-Aqsa.

Seperti yang dilakukan hari Rabu (2/8) dan Kamis (3/8) kemarin, Dapur Umum Indonesia untuk Al-Aqsa berhasil membagikan lagi lebih kurang 2000 paket makanan gratis di dua titik gerbang yang berbeda. Target distribusi masih tetap sama, yakni ribuan jemaah masjid al-Aqsa dan ratusan Murabiteen atau para penjaga Al-Aqsa.

“Alhamdulillah distribusi makanan Rabu dan Kamis berjalan lancar dengan bantuan puluhan tim relawan ACT di Al-Aqsa. Dua pekan sudah kami bekerja keras memenuhi semua amanah masyarakat Indonesia untuk puluhan ribu jamaah di Al-Aqsa,” ungkap Abu Ali lewat sambungan teleponnya kepada ACTNews langsung dari Yerusalem.

Rabu (2/8) sehari penuh, tim relawan ACT di Al-Aqsa menyelesaikan semua distribusi makanan di gerbang Al-Silsila. Sempat pula beberapa relawan masuk ke dalam Kompleks Al-Aqsa untuk membawa makanan bagi para Murabiteen.

Tentu bukan hal mudah untuk membawa masuk makanan hingga ke dalam al-Aqsa, sebab lirikan dan amatan Polisi Israel tajamnya bukan main. Sedikit saja ketahuan, mungkin bakal ada seorang relawan ACT lagi yang bakal ditangkap dan diinterogasi. Bahkan, mereka bisa jadi tak bakal dilepas atau tak bakal dipulangkan, alias dipenjara untuk sementara waktu.

“Setiap harinya kami akan betul-betul berusaha memilih tempat distribusi yang berbeda, bahkan dengan rotasi relawan yang berbeda-beda. Tujuannya memang agar distribusi makanan sampai hingga ke seluruh lingkungan masjid Al-Aqsa. Juga agar wajah-wajah relawan ACT di Al-Aqsa tak sampai dikenali oleh Polisi Israel,” ujar Abu Ali.

Sehari berikutnya, Kamis (3/8) distribusi makanan dari Dapur Indonesia untuk Al-Aqsa berlanjut di lokasi yang berbeda, sedikit bergeser yakni di gerbang Hutta. Seribu lebih paket makanan dibagikan di titik ini, setelah sehari sebelumnya seribu paket makanan juga selesai dibagikan di Gerbang Al-Silsila.

Sempat ada masalah ketika distribusi makanan berlangsung di Gerbang Hutta. Pasalnya seusai salat Asar berjamaah, ada sekitar 40 orang warga Yahudi Israel yang memaksa masuk ke dalam kompleks Al-Aqsa untuk beribadah.

“Puluhan Yahudi itu masuk melewati gerbang Al-Maghribi yang selama ini ditutup oleh pemerintah Israel. Tapi mereka melenggang masuk dan dikawal penuh oleh Polisi Israel. Kami jelas geram dan marah,” cerita Abu Ali.

Tapi ketegangan antara warga Palestina sesaat setelah kejadian itu tak sampai membuat distribusi makanan dari Indonesia terhambat. “Alhamdulillah distribusi makanan hari Kamis kemarin tetap selesai tanpa diganggu oleh Polisi Israel,” pungkas Abu Ali. []

TAGS