DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Warga Yaosakor Belajar Pola Hidup Bersih dan Sehat

Pemulihan Pascabencana
Warga Yaosakor Belajar Pola Hidup Bersih dan Sehat

ACTNews, ASMAT - Pelabuhan feri yang terletak di Distrik Agats tidak pernah sepi dari aktivitas warga lokal, bahkan sedari fajar menyingsing. Rupa-rupa aktivitas terekam; ada yang sibuk mendorong gerobak dorongnya, ada yang mempersiapkan motor listrik dan speedboat, atau ada juga yang menjajakan dagangannya.

Sementara ada pemandangan lain yang menjadi sorotan masyarakat sekitar. Yaitu tiga relawan medis ACT yang siap bertolak menuju Distrik Siret. Pakaian yang sedikit berbeda dengan masyarakat pada umumnya, menambah daya tarik bagi penduduk sekitar pelabuhan di Distrik Agats.

Tujuan Tim Relawan Medis ACT hari itu, Selasa (6/2), adalah Kampung Yaosakor di Distrik Siret. Di pedalaman Asmat inilah, tim akan memberi penyuluhan dan layanan kesehatan bagi warga yang terkena gizi buruk maupun penyakit lainnya.

 

Dari Distrik Agats, dibutuhkan waktu tempuh selama tiga jam untuk mencapai Kampung Yausakor. Medan perjalanannya bisa dibilang jauh dari kata mudah. Belasan sungai dan anak sungai dilalui, dengan risiko mesin speedboat tersangkut jaring ikan usang dan kayu yang hanyut.

Tiba di Yaosakor, tim disambut oleh Vera, salah satu petugas medis Puskesmas Yaosakor. Perbincangan seputar wabah campak dan gizi buruk yang tengah melanda Kabupaten Asmat pun mengalir. 

Menurut Vera, salah satu faktor pendukung terjadinya campak dan gizi buruk di Asmat adalah rendahnya tingkat pengetahuan akan perilaku hidup bersih dan sehat. Kebanyakan anak jika sudah mandi di sungai, tidak pernah membilas lagi badan mereka dengan air bersih. Frekuensi mandi pun cukup jarang sehingga banyak kotoran yang menempel pada tubuh mereka.

 

Selain dengan gaya hidup bersih yang masih jarang dilakukan, kesadaran akan penanganan pertama terhadap penyakit anak juga masih minim. Vera mengungkapkan, para orang tua masih enggan membawa anak-anaknya yang sakit ke puskesmas. 

“Mereka masih banyak yang percaya pada titah nenek moyang. Kalau anak mereka sakit, diberilah obat dari kepercayaan nenek moyangnya kepada anak mereka. Contoh lain, mereka masih menganggap vaksinasi itu hal yang menakutkan. Hal ini hanya karena setelah vaksinasi, suhu tubuh anak-anak mereka meningkat sehingga dikira berbahaya,” jelas Vera. padahal, menurutnya, hal itu biasa dalam vaksinasi.

Perihal gizi buruk, Vera mengaku hal tersebut umumnya dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencukupi gizi dalam makanan sehari-hari. Masyarakat beranggapan, makan satu kali sehari itu sudah cukup.

 

"Masyarakat di Siret ini kalau makan paling satu hari sekali, kehidupan di sini banyak dihabiskan dengan bermain dan bekerja. Mereka kurang memperhatikan jumlah dan jenis asupan makanan yang harus diberikan untuk keluarga mereka setiap harinya. Mi instan saja dianggap sayur karena berkuah,” papar Vera kepada tim ACT.

Tidak butuh waktu lama untuk Tim Relawan Medis ACT memulai penyuluhan kesehatan pada hari itu. Selepas Maghrib, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PBSH) diadakan di aula pertemuan warga Kampung Yaosakor. Warga Siret berkumpul dalam satu tempat, duduk berjejer membentuk satu lingkaran.

Dr. Arini, salah satu relawan medis ACT mulai memberikan pemahaman tentang empat unsur yang harus terkandung dalam makanan sehari-hari. Katanya kepada segenap warga yang hadir, makanan pokok seperti nasi, sagu, dan umbi-umbian amat penting untuk asupan karbohidrat harian.

 

"Agar kita sehat, karbohidrat itu dilengkapi dengan asupan protein yang biasanya ada di lauk seperti ikan, daging, atau telur. Lalu ada sayuran sebagai seratnya. Tak lupa buah-buahan sebagai vitamin yang diperlukan oleh tubuh,” papar dr. Arini.

Selain memberikan penyuluhan tentang empat komponen makanan sehat, warga juga dijelaskan mengenai pentingnya asupan air minum yang cukup. Tubuh manusia harus cukup akan asupan cairan, minimal sembilan gelas per hari. 

"Pace, Mace, Ade, kalau minum kita harus banyak to, minimal setiap hari sembilan gelas," ucap Harum Aulia, relawan ahli gizi ACT dengan logat yang menyerupai gaya bicara penduduk Asmat.

 

Usai memberikan penjelasan tentang kebutuhan asupan gizi dan air minum harian, para warga lalu dilatih cara mencuci tangan yang baik dan benar. Semua yang hadir berdiri untuk mempraktikkan hal tersebut, termasuk anak-anak. 

Nurul, Jannah relawan perawat ACT, menjelaskan, sosialisasi mencuci tangan yang baik dan benar itu penting sekali. Walaupun terlihat sepele, dampaknya akan sangat besar dan mempengaruhi daya tahan tubuh si anak. Hal ini karena tangan akan secara langsung berhubungan dengan mulut. Tangan yang kotor akan mengantarkan kuman dan virus ke dalam mulut, jalan akses utama masuknya kuman dan virus ke dalam tubuh seseorang.

"Saya berharap, dengan diberikannya pengetahuan cara cuci tangan yang baik dan benar dapat mengubah perilaku kurang bersih masyarakat di Siret. Sebagaimana kita tahu, kesadaran untuk hidup bersih dan sehat masyarakat di sini masih minim. Kami akan berusaha dari hal terkecil untuk menyadarkan mereka. Sehingga, ini mampu meminimalisir adanya wabah penyakit di Distrik Siret,” terang Nurul.

 

Tim Relawan Medis ACT akan terus memberikan penyuluhan dan layanan medis di Kabupaten Asmat hingga akhir Maret ini. Sebanyak 15 relawan medis yang terbagi dalam lima tim secara bertahap diberangkatkan. Hal tersebut ditujukan untuk memberikan layanan kesehatan menyeluruh bagi penderita gizi buruk dan campak di Asmat. []

TAGS