DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Yang Menyerah dan Bertahan dalam Krisis Kelaparan Somalia

Yang Menyerah dan Bertahan dalam Krisis Kelaparan Somalia

ACTNews, MOGADISHU, Somalia - Tragedi yang berulang itu mungkin bakal terjadi. Somalia sedang mengulang kembali tragedi kemanusiaan terbesar dalam tiga dekade terakhir. Tragedi itu kembali hadir dalam krisis yang luar biasa meluas. Tidak terhitung lagi harus berapa banyak cerita yang dituliskan untuk menggambarkan Somalia dalam bingkai kelaparan, krisis kesehatan akut, hingga kehancuran dan kematian di tiap detak jamnya.

Bahkan ketika cerita ini dituliskan, mungkin ada puluhan lagi tambahan angka kematian karena lapar dan kekeringan di wilayah gersang desa-desa miskin Somalia.

Tujuh tahun silam, sepanjang 2011 Somalia pernah mengalami tragedi kelaparan dalam skala krisis yang meremukkan nurani. Tujuh tahun lalu, kelaparan di seluruh Somalia sudah membunuh tak kurang dari 260.000 jiwa.

Ya, dua ratus enam puluh ribu jiwa. Angka kematian yang hampir setara jumlahnya dengan kematian akibat hempasan tsunami Aceh tahun 2004 silam. Dan kini, Somalia sedang mengulang kembali krisis kelaparan itu.

Satu pekan kemarin, di akhir Februari 2017, Pemerintah Somalia mengeluarkan peringatan darurat yang berlaku di seluruh negeri: Darurat Bencana Kelaparan dan Kekeringan di seluruh wilayah Somalia. Nada peringatan itu tidak lagi pelan, tapi menyentak seantero dunia untuk bergerak dan bangkit. Berbuat sesuatu untuk menahan laju kematian orang-orang Somalia yang menahan lapar dan kering tanah tanpa air bersih sama sekali.

Dari wilayah Doolow di perbatasan Somalia dengan Ethiopia, kemudian ke Baidoa di wilayah tengah paling gersang, hingga di Ibukota Mogadishu latar ceritanya tetap sama; lapar dan kering. Yang membedakan hanya satu hal, ada yang menyerah dan ada yang bertahan menghadapi krisis kelaparan dan kekeringan terbesar di Somalia sejak 3 dekade terakhir.

Melansir potangan cerita dari Jurnalis senior asal Johannesburg, Fahmida Miller, Ia menyimak langsung betapa krisis kelaparan Somalia menyebar luas, dari Doolow, Baidoa, sampai ke Ibukota Mogadishu.

Doolow hari ini adalah tempat di mana ribuan orang-orang Somalia menyerah pada krisis kelaparan yang sedang melanda. Mereka menyerah dan memilih untuk melarikan diri keluar dari Somalia, menjadi pengungsi di negeri tetangga; Ethiopia. Dari Doolow, perbatasan Ethiopia dan Somalia hanya dipisahkan sebuah jembatan kecil. Di jembatan inilah orang-orang Somalia menunggu berhari-hari, ditemani keledai yang menarik gerobak berisi barang bawaan mereka.

Jika pihak Ethiopia memilih untuk membuka perbatasan, maka mereka pun dapat melintas dan menyeberang. Hidup sementara di kamp pengungsian dekat perbatasan. Meski tak menjamin adanya makanan yang cukup, tapi setidaknya lebih aman dari ancaman ekstremis al-Shabab dan perang saudara.

Nasib yang sama tapi dengan wajah yang berbeda nampak juga di Baidoa, sekira 227 km atau tujuh jam perjalanan darat, sebelah selatan Doolow. Di Baidoa inilah kasus kematian karena lapar ditambah penyakit kolera juga diare merebak beberapa hari terakhir.

Dalam laporan perjalanannya yang dimuat di laman Aljazeera, Fahmida Miller menuliskan, di Baidoa beberapa hari terakhir ini hampir tidak ada lagi petani yang sanggup menjalankan kebunnya. Kambing-kambing terkapar mati karena tak ada air untuk minum. Tanpa kebun, mereka tak punya apapun untuk membeli sesuatu. Yang bertahan di Baidoa hanya bisa tinggal di balik tenda lusuh yang dilapisi dengan plastik dan material apapun yang bisa mereka temukan.

Baidoa adalah rumah bagi mereka yang mencoba bertahan. Meski satu pekan terakhir krisis kelaparan dan kekeringan parah sedang menghebat, Miller berkata bahwa orang-orang Somalia di Baidoa hidup sebagai komunitas. Mereka saling membantu tetangga terdekat. Memberi makanan dan air minum meskipun dua kebutuhan pokok itu hampir nihil di Baidoa.

Sementara itu, rumah sakit di Baidoa hingga hari ini penuh dengan pasien. Ruang-ruang rumah sakit membludak dengan orang-orang Baidoa yang terkapar karena malnutrisi, kolera, dan diare. Terbayang pernyataan dari Perdana Menteri Somalia Hassal Ali Khaire pada Sabtu (4/3) pekan kemarin, Ia berkata bahwa dalam 48 jam terakhir, sedikitnya 110 orang Somalia di Distrik Bay, Kota Baidoa mati karena lapar dan diare.

Kelaparan itu pun meluas sampai ke Ibukota Mogadishu, si Ibukota yang berada di tepian Samudera Hindia. Ibukota itu pun hari ini penuh dengan orang-orang Somalia yang berjalan jauh dari desa-desa terpelosok di utara Somalia. Lorong-lorong rumah sakit di Mogadishu makin sesak oleh warga Somalia yang terkapar karena diare, kolera dan malnutrisi.

Mereka bedol desa, lari menumpang keledai ratusan kilometer sampai ke Mogadishu. Demi bertahan hidup dari lapar dan penyakit malnutrisi. Di desa mereka yang gersang, tidak ada lagi obat-obatan dan bantuan medis yang bisa mereka dapatkan.

Krisis kelaparan, malnutrisi, dan kekeringan parah ini bukan mengada-ada. Somalia betul-betul sedang sekarat. Sulit membayangkan situasi Somalia bisa kembali pulih dari derita kelaparan.

Tanpa bantuan internasional, Somalia bakal makin sekarat. Keputusan cepat harus diambil oleh publik internasional, dari belahan dunia mana pun, termasuk Indonesia. Pilih untuk membantu salurkan makanan sampai ke Somalia, atau pilih untuk berdiam diri dan melihat detak kematian di Somalia bertambah setiap jamnya.

Kelaparan itu hanya masalah waktu, semakin lama memaksa bertahan tanpa makanan, makin cepat sekarat itu datang.

TAGS