ACT

Sedang Prosess

Rohingya

Rohingya

Etnis Rohingya bagai berada di ujung tanduk. Bangladesh yang selama ini menampung pengungsi mengatakan sudah tidak sanggup lagi, sedangkan Pemerintah Myanmar layaknya buaya buas yang siap menerkam etnis Rohingya yang akan kembali pulang ke Arakan. Telah banyak jiwa yang terenggut, tubuh yang terluka dan rumah yang terbakar. Akankah kita hanya diam menyaksikan? Mari, pahami dan ulurkan tangan kita bagi etnis Rohingya yang menderita.

Etnis Rohingya merupakan penduduk asli wilayah Arakan sejak abad ke-16. Wilayah tersebut saat ini kita kenal dengan wilayah Rakhine, Myanmar. Sejak sebelum kemerdekaan Myanmar, etnis Rohingya telah berkali-kali berusaha disingkirkan dari tanahnya sendiri. 

Pada tahun 1942, sekitar  100.000 Muslim Rohingya tewas dan ribuan desa hancur karena saat itu Muslim Rohingya memihak kepada Inggris. Tentara okupasi Jepang yang saat itu menguasai Myanmar tidak terima dan membantai mereka begitu saja.

Tahun 1948, Myanmar merdeka dari Inggris Raya. Hal tersebut membuat Inggris tidak dapat lagi mengakomodir etnis Rohingya dan tentara Myanmar dapat semena-mena membantai mereka.

Pada tahun 1948 terjadi Operasi militer yang bernama King Dragon. Operasi tersebut bertujuan untuk mengintimidasi etnis Rohingya dan memaksa mereka keluar dari wilayah Arakan. Sekitar 200.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Tahun 1982 pemerintah Myanmar tidak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya sehingga mereka dapat leluasa menyiksa dan mengusir etnis Rohingya yang kebingungan.

Sejak saat itu, berbagai kejahatan terus muncul terhadap etnis Rohingya. Mulai dari penghancuran masjid dan sekolah, pembunuhan, pembakaran rumah dan berbagai perlakuan lain yang melanggar HAM dilakukan oleh tentara Myanmar.

Pada tahun 2012, muncul gerakan Rohingya Elimination Group yang didalangi oleh kelompok ekstremis 969. Konflik yang pecah memakan 200 jiwa dan 140.000 warga Rohingya lainnya dipaksa tinggal di kamp-kamp konsentrasi yang tidak manusiawi. Menurut sebuah studi oleh International State Crime Initiative (ISCI) dari Queen Mary University of London, Rohingya sudah mulai memasuki tahap akhir genosida yaitu pemusnahan massal dan penghilangan dari sejarah. PBB juga menyebut Rohingya sebagai kelompok etnis paling teraniaya di dunia.

Saat ini Muslim Rohingya yang masih berada di Rakhine hidup terisolasi dalam ketakutan. Sejauh ini jumlah populasi etnis Rohingya di Provinsi Rakhine semakin menurun drastis hingga menjadi 40% dibanding tahun sebelumnya. Populasi Rohingya menurut UNHCR ialah 1,3 juta orang, dimana 926.000 adalah orang-orang yang tidak memiliki kewarnegaraan dan 375.000 lainnya menjadi pengungsi di negara mereka sendiri. Sejak tahun 2013 lalu, ribuan warga melarikan diri ke negara-negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui jalur laut. Pria, wanita, dan anak-anak terkatung-katung di dalam kapal tanpa kejelasan apakah daratan yang mereka tuju bersedia menerima mereka. Salah satu pengungsian warga Rohingya di Indonesia dibangun oleh Aksi Cepat Tanggap berlokasi di Blang Adoe, Aceh Utara.

Sempat dicanangkan repatriasi alias pemulangan para pengungsi agar dapat kembali tinggal di Myanmar. Namun, tidak ada jaminan keamanan dari pihak Myanmar sehingga para pengungsi pun enggan dan takut kembali ke tanahnya sendiri. Mengingat, perlakuan kejam acap kali dilakukan bahkan tanpa pemberitahuan sehingga pembantaian kembali bisa sewaktu-waktu terjadi.

Aksi Cepat Tanggap menggandeng tangan sahabat kemanusiaan sekalian untuk peduli terhadap etnis Rohingya. Beberapa program kemanusiaan telah dijalankan dan digulirkan demi menyelamatkan kehidupan saudara-saudara kita, Rohingya yang teraniaya.

Dari segi pemenuhan pangan, telah kita salurkan bantuan pangan yang siap disantap oleh saudara-saudara kita yang kelaparan di kamp-kamp pengungsian. Kita juga salurkan Global Qurban untuk etnis Rohingya agar mereka juga dapat merasakan nikmatnya daging di hari raya umat Islam.

Dari segi tempat tinggal, telah kita bangun Integrated Community Shelter yang berupa bangunan dengan banyak pintu agar mereka tidak tinggal di tenda-tenda melainkan di bawah atap yang kokoh dan dinding yang tebal demi terlindung dari panas matahari dan dinginnya hujan yang menusuk tulang.

Kita juga rutin menyalurkan paket-paket makanan demi menjaga mereka dari masalah baru akibat kelaparan. Sejumlah paket pangan siap olah diterima oleh mereka dan siap membersamai mereka menghadapi kondisi yang menyedihkan.

Sahabat, hingga detik ini mereka masih membutuhkan uluran tangan kita! Janganlah kita berhenti untuk mendoakan dan terus merangkul mereka dalam nilai-nilai kemanusiaan! Mari, tunjukan kepedulianmu dengan menyalurkan harta terbaik melalui:

BNI Syariah 66 0000 5005

a.n. Aksi Cepat Tanggap