ACT

Sedang Prosess

Suriah

Suriah

Delapan tahun sudah rakyat Suriah diperangi di negerinya sendiri. Kota demi kota hancur lebur dengan kondisi yang menyayat hati. Baik tua maupun muda, berteriak tak tahan lagi. Peperangan ini membunuh mereka setiap waktu, setiap hari. Jeritan mereka ialah panggilan pada hati, akankah kita diam dan abai terhadap panggilan ini?

Sekitar 8 tahun yang lalu: peperangan yang menegangkan mulai terjadi demi menguasai kota Aleppo, Idlib dan beberapa kota lainnya. Masalahnya, peperangan yang mereka lakukan tidak hanya menyerang kalangan yang berseragam militer, namun masyarakat sipil yang tak berdosa.

Desember 2016 lalu, Aleppo mengulangi lagi tragedi penuh darah. Serangan udara jatuh menimpa kawasan pemukiman Aleppo. Setelah menyergap Aleppo selama sekian tahun lamanya, horor konflik menyerang Idlib. April 2017, ledakan terdengar dari langit kota yang terletak di bagian barat laut Suriah tersebut. Serangan gas kimia beracun membekap seisi kota. Tak beraroma dan tak bersuara, namun sangat mematikan. Inilah kekejian yang nyata, karena menyerang mereka tanpa pandang siapa. Banyak ditemukan anak-anak yang tewas kehabisan nafas, orang-orang tua yang kejang-kejang kehabisan udara.

Februari 2018, Ghouta Timur mendapat gilirannya. Mereka terkepung di tanah kelahiran, sementara ratusan ribu warganya terpaksa mengungsi tanpa tahu sampai kapan menjauh berlari. Serangan udara yang terus menerus menggempur Ghouta Timur dinilai sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu. Jet tempur secara intens membombardir rumah warga hingga fasilitas umum lainnya seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya. Lagi-lagi, mayoritas korban justru jatuh dari kalangan sipil yang tak berdosa.

Akibat hujan rudal yang seakan tiada henti, jeritan warga Suriah seperti tiada arti. Ratusan jiwa yang tak berdosa meninggal dunia, ribuan lainnya mengalami luka-luka dan tidak sedikit dari mereka yang menderita cacat akibat serangan dengan bahan kimia yang sangat aniaya.

Warga Suriah kini menderita di pengungsian, kekurangan berbagai bahan makanan, pakaian hangat dan air yang layak untuk melepas dahaga dan kekeringan.

Musim dingin yang datang menerjang turut menyumbang penderitaan mereka yang teraniaya. Dengan pakaian tipis satu-satunya, mereka tak kuasa menahan udara dingin yang menusuk tulang. Dengan bahan makanan yang tak lagi ada, mereka harus membawa lapar sambil memejamkan mata.

Aksi Cepat Tanggap dengan dukungan masyarakat Indonesia, telah menyalurkan berbagai program dan bantuan untuk pengungsi Suriah.

Lampu emergency, pakaian hangat, Humanity Card dan daging qurban disalurkan demi memenuhi perut warga Suriah yang kedinginan dan tenggorokan mereka yang kehausan.

Indonesia Humanitarian Center dibangun sebagai pusat pasokan bantuan bagi rakyat Suriah yang menderita. Pabrik roti dijalankan tepat di Kota Reyhanlie perbatasan Turki-Suriah, paket pangan diantarkan dari satu camp ke camp lainnya demi menemani pengungsi Suriah menghadapi kejamnya hari dari balik tenda yang tak layak dihuni.

Tidak hanya itu, Aksi Cepat Tanggap juga mengakomodir masa depan mereka dengan menyediakan beasiswa dan sekolah sementara yang didirikan di kamp-kamp pengungsian agar anak-anak mereka tidak putus belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Sahabat, keadaan di Suriah mungkin takkan pernah bisa kita bayangkan. Kekejian yang terjadi teramat sulit untuk direnungkan. Semua yang terjadi, seakan tidak ada harapan lagi. Namun kita tak boleh berdiam diri!

Ayo, tunjukan kepedulianmu dengan memberikan harta terbaik untuk menolong saudara-saudara kita negeri para anbiya! Salurkan kepedulianmu melalui:

BNI Syariah 66 0000 9009

a.n. Aksi Cepat Tanggap