DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Salam Presiden ACT

Kita hidup di suatu masa dimana kita semakin sulit membedakan kriteria bencana alam, bencana sosial, bencana kemanusiaan. Bencana yang disebabkan ulah manusia sendiri telah sedemikian rupa mengakibatkan rangkaian “bencana alam” yang lalu mengakibatkan secara berantai bencana sosial yang berjangka waktu begitu panjang hingga melebihi umur manusia umumnya.
 
Ambil contoh gizi buruk (baca: kelaparan akut dan dalam jangka waktu panjang), yang telah dengan tanpa ampun merebak ke sebagian besar penjuru negara kita, dan negara-negara lain bahkan di negara maju sekalipun tidak luput dari kerawan-panganan. Penyebab merebaknya gizi buruk adalah kombinasi dari berbagai faktor yang merupakan ulah manusia sendiri.
 
Dari mulai kekeringan dahsyat yang  sebagiannya akibat dari perubahan iklim ekstrim, peperangan, sistem ekonomi yang menjebak dunia dalam krisis global, hingga pemerintahan yang (nyaris?) gagal membentuk masyarakat yang memiliki akses kepada pangan dan sarana kesehatan yang memadai. Ditambah sebab-sebab lain yang bisa didiskusikan dengan panjang.
 
“Ulah manusia” yang nyata-nyata merupakan akar persoalan dari hampir semua “bencana” di muka bumi pada dekade terakhir ini, sepertinya betul-betul harus membuat kita mengkontemplasikan jawaban dari pertanyaan: siapa yang harusnya “bertanggung jawab”? Detik ini, siapa yang harusnya melakukan upaya perbaikan di muka bumi? Ini bukan lagi masalah siapa yang salah. Karena makin lama kita makin tidak bisa menuding orang lain, pihak lain, tanpa kemudian kita pun ikut tertuding. Dan lagi, menyalahkan hanya membuat kita dan siapapun diantara kita, memiliki alasan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa.
 
Jelas, siapapun kita, bila kita adalah sejatinya manusia yang menjunjung tinggi kebaikan dan berupaya melakukan perbaikan di muka bumi, maka tidak akan sulit bagi kita untuk saat ini juga, ikut serta dalam barisan “pembawa solusi”. Sendiri-sendiri pastilah kita sangat terbatas, namun kita harus yakin bahwa ketika kita menyatukan kekuatan yang kita miliki, dan bersama-sama menyebarkan kepada siapapun yang kita temui kesadaran untuk bergerak demi kemanusiaan, maka yang sedikit-sedikit itu akan menjadi gelombang gerakan kemanusiaan yang tak terbendung.
 
Membentuk sebuah peradaban kepedulian. Peradaban dimana PEDULI mewujud dalam bentuk gerakan KERELAWANAN untuk berbuat. Menjadi bukti nyata dari rasa kemanusiaan yang memenuhi hati sebagian besar dari kita, dan menjadi gaya hidup, nilai utama yang dijunjung tinggi, oleh setiap (atau sebagian besar) dari diri kita. Kerelawanan yang muncul dari kesadaran yang berurat berakar, bahwa ketika kita berbuat untuk “orang lain” sebetulnya tidak lain tidak bukan adalah untuk diri sendiri dan untuk kebersamaan kita semua tanpa terkecuali. Itu artinya, membentuk KEMANDIRIAN kita. Sebuah kemandirian masyarakat, yang menjadi tujuan dari upaya apapun yang kita lakukan.
 
Mari kita bayangkan, tidak terlalu jauh di masa depan kita, ada semacam siklus (cycle) dari kepedulian – kerelawanan – kemandirian yang terus berproses tanpa henti. Inilah peradaban dimana kita, secara bersama-sama, menjadi berdaya sepenuhnya untuk menentukan kehidupan terbaik yang kita inginkan. Peradaban dimana setiap dari kita peduli dan mewujudkan kepedulian itu dalam bentuk kesadaran tertinggi untuk berbuat (baca: kerelawanan), dan output “akhir”nya mengkristal menjadi kemandirian kita sebagai masyarakat. Lalu kemandirian kita ini serta merta menjadi modal sosial bagi kita untuk semakin meningkatkan kepedulian dan kerelawanan kita, demikian seterusnya… makin membesar bagaikan efek bola salju… semakin mandiri dan berdayanya kita sebagai masyarakat.
 
Oleh karenanya sungguh sesuatu yang logis belaka bila kita mengatakan, bahwa kepedulian, kerelawanan, adalah jawaban sejati dan permanen dari segala apa permasalahan di dunia ini saat ini, yang banyak bersumber dari semakin tidak pedulinya kita, satu dengan yang lain. Sebuah strategi pencapaian menuju kemandirian masyarakat. Namun pada saat yang sama, menjadi tujuan dari strategi itu sendiri, yaitu berupa terbentuknya lingkaran hidup kepedulian – kerelawanan – kemandirian masyarakat.
 
Kiranya bila itu terjadi, ketika kita telah mampu melakukan segala yang perlu dilakukan untuk perbaikan di muka bumi, atas dasar kemanusiaan dan kebaikan belaka, tanpa tersekat-sekat dalam batas-batas apapun, maka kita pun menjadi human at its best. Manusia dalam sifat ”terbaik”-nya, dunia dan akhirat.
 
 
Ahyudin
Presiden